Dunia Kerja

8 Strategi Penyelesaian Konflik di Tempat Kerja 

Anggi Novita Sari Diterbitkan 19:00 5 menit membaca
Strategi Penyelesaian Konflik di Tempat Kerja 
Ukuran Teks:

Tugaskaryawan.com – Bukan tidak mungkin kamu menghadapi konflik bersama rekan kerja di kantor. Ini bisa berupa persilangan ketika rapat atau tidak sinkronnya aktivitas di dalam tim. Tidak jarang konflik ini berkembang menjadi masalah personal yang akan menghambat kerja sama tim. 

Akibatnya, produktivitas individu dan performa tim secara keseluruhan akan menurun. Jelas ini akan menyulitkan tim untuk menghadapi tujuan dan target yang akan diraih. Karenanya, strategi penyelesaian konflik dibutuhkan agar tidak kunjung berlarut-larut. Yuk, simak ulasan selengkapnya di bawah ini. 

Strategi Penyelesaian Konflik di Tempat Kerja 

Ada sekitar 8 strategi yang bisa kamu lakukan untuk menyelesaikan konflik di tempat kerja, yaitu: 

1. Menyelesaikan Masalah Pribadi 

Baik konflik yang terjadi di email, pertemuan, telepon atau tatap muka langsung, pastikan untuk mengalihkan pengelolaan masalahnya ke ranah pribadi. Apabila konflik terjadi di hadapan publik, nyatakan bahwa problem tersebut akan dituntaskan secara personal atau offline. Lalu, imbau semua orang untuk “move on” dari konflik tersebut. 

Penanganan masalah secara pribadi akan menciptakan kesempatan bagi semua orang yang terlibat untuk menyampaikan niat dan perasaan mereka dalam lingkungan yang lebih tertutup. Strategi kali ini juga mencegah orang lain yang tidak berhubungan ikut campur dalam proses penyelesaian konflik. 

2. Memahami Suatu Masalah Memang Tidak Bisa Ditangani 

Tidak peduli seberapa banyak usaha yang dikerahkan untuk menuntaskan konflik, ada kalanya timbul permasalahan yang memang tidak ada solusinya. Ketika hal tersebut terjadi, kita harus tahu waktu untuk “menyerah”. Bisa jadi, seseorang memang sedang mengalami hari yang buruk atau kamu dan klien terus-menerus bertentangan dalam membahas sebuah topik. 

3. Menggunakan Teknik Pendengar Aktif 

Active listening adalah teknik tepat yang menjadikan kamu sebagai pendengar lebih baik dan mampu memaksimalkan pekerjaan sehari-hari, terutama dalam penyelesaian konflik. Caranya? Berikanlah masukan selama kamu mendengarkan, gunakan sedikit dukungan supaya orang yang bercerita merasa didengar, lalu bahas ulang permasalahan sekaligus memberikan jeda sesekali diantara pernyataan yang kamu sampaikan. Langkah ini sangat baik agar orang-orang tahu bahwa kamu sedang menyimak dengan seksama. 

4. Memberi Kritik yang Membangun 

Dalam strategi penyelesaian konflik, terdapat berbagai macam pendekatan, termasuk metode yang bersifat kritis. Nah, ada kalanya suatu permasalahan hanya bisa ditangani dengan cara pengkritikan. Perlu diingat, pihak yang menjadi sasaran kritik adalah orang yang bekerja denganmu di esok hari, minggu depan, bahkan seterusnya. Jadi, bagaimana cara mengkritik tanpa menyakiti tapi tetap aktif? 

Gunakan kritik yang membangun. Jenis kritik ini menjadi pendekatan yang dimaksudkan untuk menyelesaikan persoalan dan menunjuk pihak bersalah, tapi masih mendukung perbuatan baik yang pernah dilakukan orang tersebut. Dengan begitu, tim memiliki “alat” untuk mencegah kekeliruan yang sama terulang kembali dan tidak akan ada kebencian diantara mereka. 

5. Jangan Terlalu Cepat Mengambil Keputusan 

Terkadang, beberapa konflik mempunyai penyebab yang jauh lebih kompleks dibandingkan ketika pertama kali muncul. Sebaiknya, agar semua orang yang terlibat lega, jangan terlalu cepat dalam mengambil keputusan. Meski kamu berpikir bahwa persoalannya sudah jelas, tetap berikan kesempatan kepada semua orang untuk mengeluarkan pendapat. 

Selain itu, cek terlebih dahulu latar belakang kejadian sedetail mungkin. Jangan sampai membuat asumsi sendiri mengenai orang-orang yang berkonflik. Ibaratnya, kumpulkan semua fakta secara teliti bak seorang detektif, lalu pertimbangkan semua faktor dengan kebijaksanaan seorang hakim. 

6. Bersikap Tegas 

Kamu memang harus menunggu waktu yang tepat untuk menyelesaikan konflik. Namun, ingat! Sekali berkecimpung di dalam prosesnya, bertindaklah secara tegas. Jangan sampai terlalu lama membuat keputusan sampai memberikan semua orang bimbang. Hal ini bisa menciptakan kesan buruk yang tertanam pada kualitas. 

Selain itu, jangan biarkan terlalu banyak masukan mengendalikan keputusan yang akan dibuat. Saran dari sesama rekan kerja terkadang memang membantu. Akan tetapi, bergantung lagi dengan opini orang lain dan tidak mempunyai pemikiran sendiri akan membuat orientasi kamu sebagai pemimpin dipertanyakan. Jadi, buatlah keputusan secara tegas meski sebagian orang yang terlibat tidak menyukainya. 

7. Bersikap Tegas 

Cobalah untuk menyelesaikan konflik dengan tidak langsung memperbaiki kesalahan. Apa maksudnya? Jika tim terus menerus mengandalkan pemimpin untuk menyelesaikan permasalahan, mereka tidak akan belajar dan sulit dalam mengambil hikmah dari sebuah konflik. 

Sebagai seorang pemimpin, kamu harus mengarahkan kelompok, bukan membela salah satu argumen dari mereka. Tambahan lagi, ajak tim untuk menuntaskan segala konflik secara bersama-sama. Memang, cara ini membutuhkan waktu yang tidak sedikit untuk membimbing mereka sampai mencapai kesimpulan. Namun, tim akan belajar bertindak menyelesaikan konflik dengan sendirinya, tanpa mereka sadari! 

8. Jangan Melakukan Intimidasi 

Sebagai pemimpin, kamu berada di posisi otoritas. Jadi, jangan sampai menyalahgunakannya. Konflik yang diselesaikan secara paksaan memang tampak lebih instan, tapi hal ini menandakan bahwa seorang pemimpin tidak mempunyai pemikiran jangka panjang. 

Belum lagi, tim tidak akan belajar apapun dari penyelesaian konflik yang memaksa selain rasa takut kepadamu. Artinya, mereka sulit mengaku ketika ada sesuatu yang salah terjadi. Hal ini membuat pemimpin tidak akan tahu apa-apa sampai masalah bisa diatasi. Jadi, luangkan waktu untuk menyelesaikan persoalan sampai benar-benar tuntas agar konflik tidak muncul kembali. 

Itulah dia beberapa strategi penyelesaian konflik dalam dunia kerja yang patut kamu ketahui. Semoga dengan adanya penjelasan di atas bisa membantu kamu dalam memperbaiki kualitas hubungan dengan rekan kerja dan pelanggan, ya. 

Tinggalkan komentar