Dropshipper: Pengertian, Cara Kerja, Keuntungan, Dan Panduan Memulai

Dropshipper adalah jalan yang bisa kamu coba untuk menambah penghasilan.

Alasan tak punya modal lalu nganggur berdiam diri tak mau berusaha bisa patah dengan fakta adanya metode dropship yang dilakukan dropshipper. Orang-orang kini bisa dengan mudah berjualan tanpa keluar modal banyak.

Mau coba memulai jadi dropshiper? Baca artikel Tugas Karyawan dulu sampai habis agar tahu seluk beluk tentangnya.

Pengertian Dropshipper

Secara sederhana, dropshipper itu orang yang melakukan kegiatan dropship.

Dropship adalah model jualan yang dilakukan tanpa melakukan stok barang. Penjual (dropshipper) yang menggunakan model ini bekerjasama dengan pihak ketiga selaku produsen barang atau supplier. Pihak ketiga inilah yang nantinya mengurus dan mengirim barang jika penjual berhasil mendapatkan order.

Tentu saja, nanti akan ada pembagian keuntungan dari pihak ketiga sebagai penjual selaku dropshipper karena membantu menjualkan barangnya.

Dari fakta di atas, bisa didapat kesimpulan, bahwa seorang dropshipper bisa melakukan kegiatan penjualan tanpa harus keluar modal sepeserpun. Ibaratnya, dengan modal dengkul saja sudah bisa jualan.

Baca juga: Investasi Terbaik, Berkah & Sejahtera

Jadi, kalau ada orang ngeluh pengen jualan tapi nggak punya modal, berilah mereka informasi bahwa ada jalan dropshipper sebagai solusi. Bagikan juga artikel ini supaya ngerti.

Cara kerja dropship

Bagaimana cara kerja dropship? Bila kamu ingin jadi seorang dropshipper, tentu saja penting untuk memahaminya. Untuk paham dengan mudah, coba kamu lihat gambar berikut ini: 

Cara kerja dropship

Ada tiga pihak yang terlibat dalam proses kerja dropship:

  • Customer
  • Tokomu (Your Store)
  • Produsen yang menyediakan produk (supplier)

Dalam ilustrasi di atas, ada beberapa tahap yang terjadi:

Toko bekerjasama dengan supplier dan menjalin kesepakatan tentang barang yang dijual. Harga barang bagi dropshipper dalam ilustrasi di atas sudah sepakat pada angka 150 dollar (dapat potongan)

Toko menjual barang kepada customer dengan harga 200 dollar. Melakukan aktivitas pemasaran ke banyak orang.

Ketika terjadi penjualan, toko memberitahu supplier bahwa ada customer yang mau beli. Toko berikan data berupa nama, alamat, dan kontak untuk keperluan pengemasan dan pengiriman.

Setelah mendapatkan informasi dari toko dropshipper, supplier segera melakukan pengemasan dan mengirim barang kepada customer.

Toko mendapatkan keuntungan 50 dollar sebagai jasa telah mencarikan customer.

Nah, itulah proses kerjanya. Mulai terbayang kan jika kamu jadi dropshiper apa saja yang kamu kerjakan?

Perbedaan dropshipper dan reseller

Apa itu dropship dan reseller? Sebagian orang yang baru belajar jualan sering tertukar dengan dua istilah ini. Padahal, keduanya jelas-jelas merupakan sesuatu yang berbeda.

Bedanya bisa kamu lihat dari tabel yang kami sajikan berikut ini:

Faktor PembedaDropshipReseller
ModalKecilLebih besar
KeuntunganKecilLebih besar
Strategi pemasaranTerbatasLebih bebas
ResikoTidak memiliki resikoResiko rugi ada
Tugas kerjaHanya jualanJualan, kemas produk, dll

Jika kamu melihat tabel-tabel di atas, jelas sekali bahwa antara dropship dan reseller ada plus minusnya.

Dropship tak membutuhkan modal, hanya membutuhkan kemauan, kuota pulsa buat promosi, dan mungkin tambahan kopi sachet supaya tetap melek balesin customer. Berbeda dengan reseller yang memerlukan modal untuk melakukan stok barang dari produsen.

Namun karena adanya modal keluar inilah yang membuat reseller punya lebih banyak keunggulan. Terutama dari sisi margin keuntungan yang didapatkan. Selain ada beberapa keunggulan lainnya.

Kita akan coba bahas ini lebih jauh di sub-bab selanjutnya ya.

Keuntungan dropshipper

Dari tabel-tabel di atas, sebenarnya sudah jelas ada beberapa keuntungan dropship. Meski ada beberapa poin tambahan juga yang akan kami tambahkan.

Berikut beberapa keuntungannya:

Modal hanya kemauan

Ya, sebagaimana sudah disinggung. Ini adalah keuntungan paling utama bagi setiap pedagang yang memilih dropshipper sebagai jalan ninjanya.

Kamu hanya perlu menghubungi produsen-produsen yang mau melakukan supply barang kepada dropshipper. Setelah itu sepakati dan pahami perjanjiannya, lalu mulai berjualan.

Paling, modalmu hanya kemauan yang tinggi, pulsa memadai, dan energi yang keluar dari gerakan jari saat mengetik di ponsel.

Kalau mau lebih sukses, kamu bisa keluarkan modal untuk ikut pelatihan dan nonton Youtube untuk upgrade skill sebagai dropshipper handal.

Baca Juga:  Lebih Penting Skill Atau Attitude Dulu? Ini Jawaban dan Alasannya

Meskipun ada juga supplier baik hati yang turut membina dropshippernya dengan berbagai materi untuk meningkatkan penjualan secara gratis.

Nggak ada resiko rugi

Rugi itu ketika pendapatan tidak sebanding dengan modal yang sudah keluar. Iya kan?

Nah, kalau definisi rugi itu semacam itu, maka seorang dropshipper nggak mengenal kata rugi. Bagaimana mungkin bisa rugi kalau nggak ada modal keluar?

Berbeda misalnya dengan abang tukang bakso yang sebelum jualan harus modal beli daging, terigu, bumbu dapur, dan sebagainya. Abang-abang itu bisa ada pada status rugi ketika baksonya tidak laku atau laku sedikit (tak sebanding dengan modal).

Dropship tak mungkin mengalami apa yang tukang bakso rasakan.

Bisa jualan banyak produk

Karena pekerjaannya fokus hanya jualan saja, maka seorang dropshipper juga bisa fokus memperbanyak barang jualannya.

Hal ini beda pastinya dengan yang terjadi pada produsen. Mengingat tugas dan kerjanya banyak, produsen biasanya fokus aja memproduksi satu atau beberapa produk yang saling berhubungan.

Misalnya produsen, keripik singkong, pasti fokusnya memproduksi dan menjual keripik singkong. Andaikata ada variasi produk, umumnya tak akan jauh dari produk singkong.

Beda halnya dengan dropshipper. Ia bisa poligami dengan banyak produsen untuk membuat produk jualannya sangat variatif. Tak ada beban untuk mengurusi hal-hal lain.

Hemat energi

Kamu tahukan dunia saat ini sedang ramai melakukan kampanye hemat energi?

Nah, memilih jalan sebagai dropshipper juga artinya mendukung program ini. Kamu bisa melibatkan diri dalam golongan orang-orang pengamal keyakinan hemat energi.

Harus kamu ketahui, bahwa dalam kegiatan bisnis, ranah produksi merupakan ranah yang sangat melelahkan.

Andaikan kamu tahu bagaimana beratnya produsen odading belanja terigu, ragi, dan gula berkarung-karung setiap hari, mengolahnya dini hari, lalu menjualnya dari pagi hingga sore hari. Serius, itu melelahkan lho!

Dropshipper bisa bekerja dengan energi yang minim. Cukup rebahan sepanjang hari sambil megang HP, diselingi main game dan sambil ngemil. Santuy bos!

Tinggal tunggu waktu aja, siapa tahu nanti dapat penghargaan pribadi hemat energi dari pemerintah.

Awas aja hadiahnya harus bagi-bagi!

Bisa dikerjakan kapanpun dan dimanapun

Pekerjaan ini juga relatif mudah kamu lakoni, sekalipun kamu menjadikannya pekerjaan sampingan.

Orang yang join dropship tidak harus ngantor atau rela-rela pergi pagi pulang pagi. Hal ini karena umumnya proses pemasaran melalui kanal-kanal internet.

Misalnya lewat marketplace, sosial media, aplikasi messenger, dan lainnya. Nah, kegiatan penjualan melalui jalur-jalur semacam itu semua bisa kamu lakukan lewat ponsel.

Kamu juga bisa memilih waktu kapan mau jualan dan kapan mau diem dulu. Asalkan kalau ada customer tanya-tanya harus cepat kamu balas agar bisa closing.

Semua orang bisa ikut

Berbeda dengan melamar kerja di perusahaan, jadi dropshipper umumnya tak ada seleksinya. Misalnya seleksi administrasi, tes psikotes, atau tes kesehatan.

Sebagaimana yang kami singgung sebelumnya, modalnya umumnya hanya kemauan tinggi.

Jadi, tak peduli kamu lulusan SMP, SMA, atau bahkan tak sekolah sekalipun, bisa melakoni pekerjaan ini.

Status pendidikan semacam itu juga tidak menjadi faktor penentu sukses dan tidaknya kamu sebagai dropshipper.

Kerugian dropshipper

Ada keuntungan, pasti ada juga kerugian. Sebelum terjun menjadi dropshipper, kamu juga perlu untuk mempertimbangkan beberapa kerugian dropshipper berikut ini:

Untung lebih kecil

Berharap untung besar dengan menjadi dropshipper sah-sah aja. Toh hal itu memang bisa terjadi. Syaratnya, kuantitas (jumlah) produk yang terjual banyak.

Kalau hanya terjual satu biji doang pasti sangat kecil. Hal ini karena produsen umumnya memberi potongan harga sedikit bagi seorang dropshipper. Standarnya kira-kira 5-15% saja.

supplier lebih menghargai reseller yang mau keluar modal untuk stok barang. Bagi supplier, reseller memberikan kepastian, sedangkan dropshipper hanya menaruh harapan.

Tentu logis bukan?

Ketika berjumpa dengan supplier, dropshipper hanya bermodal janji untuk bantu menjualkan. Tak ada yang menjamin barang supplier akan laku atau tidak.

Beda dengan reseller yang sedari memberikan kepastian dengan membayarkan sejumlah uang untuk membeli.

Resiko dihantui customer

Karena tak memegang kendali atas produk yang dijualnya, dropshipper juga punya resiko berhadapan dengan customer yang menghantuinya.

Ada kasus-kasus misalnya, ketika dropshipper dapat order dari customer, eh ternyata supplier responnya lemot atau bahkan tiba-tiba menghilang. Nah, kalau begini gimana coba?

Kasus lainnya, ada juga yang pengirimannya telat banget. Dropshipper yang tak punya kontrol penuh atas kegiatan produksi tak punya jawaban pasti ketika customer menanyakan perkembangan pesanannya.

Masalah semakin besar jika uang dari customer sudah dropshipper pakai duluan untuk beli boba dan jus jeruk. Wah, repot deh.

Baca Juga:  Memahami Perbedaan Sales dan Marketing dalam 5 Menit

Makanya untuk menghindari kondisi-kondisi di atas, sebaiknya melakukan dua hal ini:

Dropshipper dari awal jujur bahwa posisinya sebagai dropshipper yang bergantung kepada supplier.

Dropshipper tidak buru-buru memakai uang customer sebelum memastikan bahwa barang yang menjadi pesanannya sudah sampai dengan selamat.

Sulit bertahan dalam persaingan harga

Banting-banting harga adalah hal yang sulit terhindarkan dari kompetisi bisnis.

Kenalan pedagang kami pernah menyampaikan hasil risetnya. Katanya, karakter pembeli di kita itu senang barang murah dan yang penting bisa dapat banyak.

Apakah kamu salah satunya? Tak usah malu mengakuinya, kamu tak sendirian.

Nah, maka tak heran bila banyak pedagang yang melakukan banting-banting harga. Contoh paling gila misalnya jika kamu mengamati marketplace.

Harga-harga terpasang kerap di luar harga pasar. Jauhlah dengan harga yang ada di kanal-kanal jualan lain seperti sosial media lainnya.

Apalagi ada fitur filter harga di marketplace yang membuat pembeli bisa tahu mana toko paling murah. Otomatis, toko paling murah itulah yang punya rasio laku paling besar.

Sebagai dropshipper, tentu nantinya kamu tak bisa suka-suka ikut dalam persaingan harga. Margin yang kecil apa masih rela terpotong lagi?

Maka solusinya, kamu bisa mencari kanal-kanal market lain dengan persaingan harga lebih sehat.

Misalnya jual lewat pesan-pesan japri kepada ibu-ibu gaptek yang masih bersih dan jauh dari membanding-bandingkan harga dengan marketplace.

Bisa juga di sosial media atau lainnya.

Sulit membangun nama merk

Membangun nilai merek di mata pelanggan sangat bermanfaat untuk membuat bisnis bertahan dalam jangka panjang.

Makanya, banyak produsen atau perusahaan yang tak segan melakukan investasi untuk membangun nama besarnya.

Nah, hal ini agaknya sesuatu yang sulit untuk kamu tiru jika memilih jalan dropshipper. Kamu bahkan hampir-hampir tak mungkin membangun brand nama toko mu sebagaimana produsen atau supplier.

Tapi ini sebetulnya tak masalah. Faktanya, ada kok dropshipper yang bisa bertahan dalam jangka panjang dengan pekerjaannya meski nilai brand-nya tidak terkenal.

Yang penting cuan dan berkah kan?

Siapa yang cocok jadi dropshipper?

Melihat keuntungan dan kerugiannya, jalan menjadi dropshipper ini benar-benar cocok bagi kamu dengan latar belakang berikut ini:

  • Baru belajar jualan
  • Mau jualan tapi belum ada modal atau modal kecil
  • Takut dengan resiko nggak laku

Jika kamu termasuk tiga golongan orang di atas, maka kamu bisa abaikan faktor-faktor kerugian. Kamu fokus saja pada peluang. Toh beberapa potensi rugi juga ada cara-cara menyiasatinya.

Ketika sudah berjalan, pada waktunya kamu mungkin bisa upgrade level menjadi reseller atau bahkan supplier.

Panduan memulai dropshipper

Bagaimana, sudah yakin mau jadi seorang dropshipper?

Jika sudah tak yakin, kamu sebaiknya skip saja artikel ini. Sebaliknya, kalau sudah yakin, kamu bisa baca panduan cara dropship berikut ini.

Simak baik-baik ya!

Cari produk potensial dengan riset

Sebelum jualan, pastikan tahu dulu, mau jualan apa?

Ada banyak sekali produk beredar di pasaran. Semuanya tentu bisa saja kamu jual.

Tapi, apakah kamu mau menghabiskan waktu menjual produk yang nggak ada potensi lakunya?

Jadi, kamu perlu tahu produk apa yang potensial dan bakal laris jika kamu pasarkan sebagai dropshipper.

Boleh-boleh saja jika sih jika kamu jadikan jualan hobi dan tak mengharap kan keuntungan. Tapi masa iya mau seperti itu? hehe..

Oleh karena itu, kamu perlu untuk melakukan satu hal ini: RISET PASAR.

Ya, coba cari informasi berbasis data-data yang bisa memberikan kesimpulan tentang mana paling bagus.

Ada beberapa cara yang bisa kamu lakukan untuk melakukan riset.

Cara paling sederhana adalah mencari produk laris dari fitur di marketplace.

Misalnya dengan menggunakan Tokopedia.

Kamu bisa masuk ke pilihan produk tertentu, misalnya produk jaket. Kemudian filter untuk menampilkan yang paling laris dari kategori baju.

Bisa kamu lihat dari jumlah pembeli atau review-nya yang banyak. Nanti kamu bisa temukan, produk jaket jenis apa yang paling laris. Misalnya disitu jaket hoodie, maka kamu bisa memilih jual jaket hoodie.

Menggunakan aplikasi riset bisa jadi pilihan lainnya.

Kalau kamu ada sedikit modal, kamu bisa beli aplikasi khusus riset. Ada kok aplikasi semacam ini.

Untuk menjadi dropshipper sukses, kamu nggak bisa asal-asalan memilih produk. Jangan habiskan waktu jualan produk yang kecil potensi larisnya.

Apalagi karena posisi kamu sebagai dropshipper yang hanya mengambil margin untung tipis.

Menemukan supplier

Setelah jelas mau jual produk apa, kamu bisa lanjut cari supplier.

Kamu bisa mencarinya langsung dengan keliling kota untuk menemukan produsen. Tapi paling mudah, kamu bisa juga menemukannya di marketplace.

Mengapa di marketplace?

Karena di sini tempat banting-bantingan harga. Kamu akan menemukan yang paling murah diantara yang murah-murah.

Baca Juga:  Mengenal Employment Risk dan Penerapannya di Dunia Kerja

Namun selain harga, ada beberapa hal penting untuk kamu jadikan pertimbangan ketika menentukan supplier. Antara lain:

  • Stok barangnya, pastikan bisa menyuplai barang secara berkelanjutan.
  • Respon terhadap dropshipper atau pembeli pastikan responsif. Cara  mengukurnya bisa  melihat review pelanggan-pelanggan sebelumnya.

Kedua hal ini penting kamu pastikan agar dalam prosesnya tidak menjumpai masalah-masalah.

Memilih lapak jualan

Ketika sudah dapat supplier yang siap dan kira-kira bakal oke, saatnya memilih tempat paling pas untuk jualan.

Lapak terbaik adalah platform online. Tapi faktanya, jenisnya juga banyak. Jadi, kamu perlu menimbang-nimbang sebelum menentukan pilihan.

  • Marketplace?
  • Facebook?
  • Instagram?
  • Toko online pribadi?
  • Tiktok?
  • Atau mau di mana?

Dalam menentukan lapak ini, pertimbangkan beberapa hal:

  • Target konsumen produkmu aktif dimana?
  • Karakter konsumen produk sejenismu aktif di platform apa?
  • Seberapa banyak dan keras persaingan dengan kompetitor di platform-platform tersebut?
  • Sebagai dropshipper, mana platform yang kamu kuasai?

Satu produk bisa jadi cocok dijual di satu platform, namun bisa saja tidak cocok. Meskipun memang ada juga yang bisa cocok di tempat manapun.

Hanya saja, agar fokus, sebaiknya kamu garap satu tempat dulu sampai ahli.

Melakukan perencanaan dalam pemasaran

Setelah jelas platform pilihannya, maka kamu bisa mulai merancang strategi pemasarannya.

Misalnya ketika kamu memilih Instagram. Apa saja yang akan kamu lakukan?

Faktanya, ada beberapa strategi pemasaran di Instagram dan lazim marketer gunakan. Misalnya:

  • Endorse
  • Giveaway
  • Instagram Ads
  • Update story
  • Update pos dengan copywriting
  • Optimasi hashtag
  • Optimasi feed

Nah, kamu mau pakai yang mana? Syukur-syukur sih bisa optimasi semuanya. Tapi, apakah sanggup?

Jika masih belum sanggup, kamu bisa merencanakan beberapa strategi yang kira-kira cocok jadi prioritas. Fokus dengan 3 kegiatan dulu misalnya.

Hal ini juga berlaku jika kamu pakai platform lain. Satu hal yang jelas, setiap platform mungkin membutuhkan strategi berbeda. Maka pahami dulu cara jualan di setiap platform.

Jangan lupa sesuaikan dengan produk dan sumber daya yang kamu miliki.

Mulai jualan dan lakukan evaluasi berkala

Terakhir, kamu bisa mulai praktek. Lakukan hal-hal terbaik untuk membuat produkmu laris.

Hanya saja, ini perlu kamu kerjakan sambil terus mengevaluasi kinerja setiap strategi. Bila kamu menggunakan fitur ads seperti FB ads, IG ads, atau Google Ads, kamu bisa mendapatkan akses ke dashboard yang isinya data-data kinerja promosimu.

Namun jika kamu melakukannya tanpa itu, kamu bisa menghimpun data-data sendiri. Misalnya data berikut ini:

  • Memetakan setiap saluran closing mana paling efektif? (apakah yang closing lewat cara A, mana yang cara B, dan seterusnya?)
  • Analisis mana saluran paling bagus?
  • Konten promosi semacam apa yang paling menghasilkan?
  • Dan banyak lagi

Dengan melakukan hal-hal semacam ini, kamu akan semakin efektif dalam jualan. Ujungnya, cuan bisa dengan lebih mudah berdatangan.

Daftar supplier dropship terpercaya

Untuk membantu kamu menemukan langkah sukses di jalur dropshipper, kamu butuh mitra supplier dropship terpercaya.

Kamu bisa meminimalisir masalah selama menjadi dropshipper dengan mencoba mempelajari dan bekerjasama dengan beberapa supplier ini:

Dusdusan.com

Menyediakan barang-barang dengan target market ibu rumah tangga. Cocok buat ibu-ibu yang punya waktu luang untuk jualan.

Bandros.co.id

Menyuplai barang-barang produk UKM khususnya fashion seperti jilbab, jaker, kaos, dan sebagainya.

Dropshipaja.com

Menyediakan barang-barang dengan konsep custom. Mulai dari kaos, top, hingga casing HP. Sistemnya pre order dan marginnya lumayan besar.

101red.com

Menyediakan produk fashion, kesehatan, dan kecantikan dengan sistem membership. Member juga mendapatkan bimbingan jualan.

Selain itu, masih ada banyak lagi yang bisa kamu pelajari. Sesuaikan dengan karakter dan target market yang kira-kira bisa kamu sasar.

Saran penutup

Sebagai penutup, dengan segala kelebihan dan kurangan dropshipper, kami punya sebuah kalimat untuk disarankan: sebaiknya kamu tak menjadikan dropshipper sebagai pekerjaan abadi.

Apakah dropshipper menguntungkan?

Jawabannya iya, bisa begitu. Banyak orang sukses dan mendapatkan banyak uang dalam model jualan ini.

Tapi kamu perlu berpikir visioner. Untuk kelangsungan bisnis yang panjang, kamu baiknya punya cita-cita memiliki brand dan produk sendiri.

Ini saran saja sih. Bisa kamu ikuti, bisa kamu abaikan.

Tapi, untuk memulai belajar jualan dan mengasah kemampuan pemasaran direct, menjadi dropshipper merupakan pilihan oke. Tak sedikit orang-orang yang sebagian kami tahu memulai langkah suksesnya menjadi pebisnis dengan jalan ini.

Oh ya, agar usahamu berkah, pastikan juga kamu melibatkan Sang Maha Kuasa dalam kegiatan. Tetap pahami dan taati koridor ajaran agama dalam bisnis. Jangan hanya karena ingin dapat cuan nggak seberapa, kamu trabas aturan. Oke?

Apakah dropshipper adalah pilihanmu setelah membaca artikel ini? Apapun jawabannya, Tugas Karyawan harap, semoga kamu sukses!

Share:

Tinggalkan komentar