Design Thinking : Pengertian, Sejarah, Fungsi, Elemen, Tahapan, Contoh

Design thinking adalah solusi dari kebekuan dalam pemecahan masalah.

Belakangan, metode ini lumayan populer dan banyak dipelajari orang. Khususnya mereka yang bergelut dalam dunia bisnis dan pemasaran.

Lantas, sebenarnya apa yang dimaksud design thinking? Bagaimana pengertian, sejarah, elemen, serta tahapan dalam menerapkannya?

Baca artikel Tugas Karyawan berikut ini untuk menjawabnya secara tuntas.

Pengertian Design Thinking

Design thinking adalah suatu metode atau pendekatan yang dipakai untuk melakukan pemecahan masalah dengan praktis dan kreatif. 

Meski mulanya penggunanya adalah mereka yang bekerja sebagai ahli desain, namun aplikasinya bisa terealisasi dalam bidang-bidang lain.

Apa yang spesial dari metode ini? Apa bedanya dengan metode lain semacam problem solving?

Secara khusus, metode design thinking dirancang dengan memusatkan perhatiannya kepada kebutuhan orang. Proses berpikir mengarah pada solusi untuk memenuhi kebutuhan manusia. 

Baca juga: STP Adalah Strategi Pemasaran Bisnis Efektif , Ini Penjelasannya!

Makanya ada juga yang menyebut ini sebagai pendekatan berbasis solusi untuk pemecahan masalah. Sebaliknya, bukan berbasis masalah untuk menyelesaikan masalah sebagaimana yang kamu temukan dalam banyak metode berpikir lain.

Sejarah design thinking

Istilah dan konsep design thinking dikembangkan oleh perusahaan konsultan desain Amerika Serikat bernama IDEO. Fokus perusahaan ini adalah merancang desain produk dengan basis inovasi.

Sejak tahun 1978, mereka mempraktekkan pendekatan ini dalam menjalankan kerja-kerja perusahaannya.

Berdasar pengalaman positif klien bisnis yang menggunakan jasanya, IDEO kemudian bergerak untuk membagikan keterampilannya kepada banyak orang. 

Mereka berbagi pola pikir, pendekatan, serta skill design thinking.

Sebagaimana tertulis dalam situs resmi IDEO, mereka bergerak dengan sebuah pepatah sederhana. 

“Beri seseorang ikan, dan mereka akan mendapatkan makanan untuk satu hari.Ajari orang memancing, maka mereka akan memiliki makanan seumur hidup,”

Seiring waktu, apa yang mereka bagikan meluas. Kini, cara berpikir tersebut bisa kamu temukan pemanfaatannya dalam bidang-bidang lain. Salah satu yang paling populer pada bidang pemasaran.

Fungsi design thinking

Setidaknya, ada dua fungsi utama design thinking ketika diaplikasikan dalam memecahkan masalah. 

Memupuk kreativitas dan inovasi

Alih-alih mengulangi metode yang sudah digunakan sebelumnya, design thinking mendorong menciptakan solusi alternatif dan baru. Inilah konsep khas dari metode berpikir ini.

Dengan kebiasaan pemecahan masalah semacam itu, kamu yang mempelajarinya bisa membentuk pola serta kebiasaan baru. 

Dalam kehidupan, cara berpikir semacam ini sangat berguna untuk menyelesaikan masalahmu sewaktu-waktu.

Membuat pelanggan lebih bahagia

Dalam konteks bisnis dan pemasaran, perusahaan yang memanfaatkan design thinking juga bisa berkontribusi meningkatkan kebahagiaan masyarakat.

Strateginya berupa orientasi kebutuhan manusia pasti akan menghasilkan produk dan layanan yang lebih baik. Dalam artian menjejakkan pengalaman bermakna dan manfaat dalam menyelesaikan masalah. 

Elemen Design Thinking

Sebelum mulai mencoba melakukan proses design thinking, kamu perlu tahu elemen yang perlu ada dalam praktik keterampilan ini. Setidaknya ada empat hal yang perlu kamu pahami mengenai metode ini.

Antara lain:

People Centered (Berpusat pada orang/pengguna)

Apapun yang menjadi hasil dari design thinking, semuanya berdasarkan perhatian kepada keinginan serta kebutuhan manusia. Hal itu merupakan pusat dari kegiatan berpikir seseorang yang mencoba menggunakan metode berpikir ini untuk menyelesaikan masalah.

Highly Creative (Kreativitas Tinggi)

Dalam proses menetapkan solusi, design thinking tidak membatasi kreativitas. Segala potensi dari ide-ide segar bisa kamu bicarakan, diskusikan, dan tentu saja kamu terapkan tanpa batasan. Metode berpikir ini tak mengenal kekakuan dan kebakuan berpikir.

Hands On (Sentuhan)

Untuk bisa menyempurnakan design thinking, harus ada sentuhan dan percobaan langsung dari pemikirnya. Metode ini tak bisa terwujud dengan hanya menyusun teori-teori yang tersusun dalam berlembar-lembar kertas. 

Iterative (Pengulangan siklus)

Terakhir, agar solusi yang bisa benar-benar mantap, perlu proses pengulangan dalam suatu siklus sebagai bahan improvisasi sehingga hasilnya lebih baik. Dengan demikian, produk atau layanan benar-benar mampu memberikan kepuasan bagi penggunanya.

Tahapan Design Thinking

Ada 5 langkah design thinking yang perlu dilalui jika kamu atau tim hendak menghasilkan produk atau layanan cemerlang yang dicintai pengguna. 

Seluruh langkah ini baku dan konsep dari pencetus idenya memang demikian. Jadi, kamu tinggal turuti saja bila mau mencobanya.

Berikut tahapan design thinking:

Tahapan Design Thinking

Tahap pertama : empathize (empati)

Paling awal dalam proses berpikir ini adalah melakukan empati. Tentu saja kepada manusia yang nantinya akan kamu sasar sebagai pengguna produk serta layanan.

Pemikir perlu benar-benar serius mengenali penggunanya. Setidaknya, mereka mampu memahami dan menjawab tiga pertanyaan ini:

  • Apa saja keinginan pengguna?
  • Mereka membutuhkan apa?
  • Apa tujuan atau harapan pengguna terhadap suatu produk?

Penting kamu catat, bahwa fase ini sebaiknya tidak memberi tempat untuk asumsi-asumsi. Berikan porsi bagi fakta-fakta agar terkumpul dan menjadi wawasan bagi pemikir metode ini.

Menarik kesimpulan-kesimpulan dalam tahap pertama ini memang tak mudah. Kamu perlu benar-benar menaruh perhatian pada emosi dan psikologi pelanggan.

Ada setidaknya empat hal untuk melatih pemikir design thinking dalam meningkatkan kemampuan empati. Di antaranya:

  • Melatih empati dalam kehidupan sehari-hari. Memperhatikan orang lain dan mencoba ikut merasakan apa yang mereka rasakan.
  • Lebih banyak mendengar ketimbang menilai. Biasakan ketika berkomunikasi dengan orang-orang kamu kosongkan ‘gelas’ untuk memahami pembicaraan orang lain lebih jernih. 
  • Meniru mimik wajah dan bahasa tubuh orang lain ketika melakukan komunikasi. Ini juga bisa meningkatkan skill empati.

Tahap kedua: define (definisikan masalah)

Dalam tahapan ini, seorang pemikir design thinking perlu secara jelas menguraikan berbagai hal yang telah didapatkan pada tahap empati. Curahkan semuanya dalam catatan sebelum benar berpikir mencari solusi.

Caranya dengan menjawab beberapa pertanyaan ini dengan baik:

  • Kesulitan dan hambatan apa saja yang dihadapi pengguna?
  • Adakah pola tertentu yang kamu amati?
  • Apa masalah besar pengguna yang bisa kamu bantu selesaikan?

Namun, ketika menjawabnya, sebaiknya jawab dengan memusatkan kalimat pada sudut pandang pengguna.

Misalnya ketika kamu menemukan bahwa masalah pengguna saat pandemi susah beli sayur di pasar, maka kalimatnya bukan ‘kami perlu menciptakan teknologi yang memudahkan…….’

Tetapi, bingkailah masalah hasil empati itu dalam kalimat ‘banyak orang kesulitan belanja ke pasar selama pandemi, jadi saya perlu..…’

Kalimat pertama berpusat pada diri sendiri selaku pemikir, sedangkan kalimat kedua berpusat pada pelanggan sebagai pengguna produk nantinya.

Itulah pegangan dalam mendefinisikan masalah ala design thinking.

Tahap ketiga: ideate (Ideasi)

Ideate dalam design thinking merupakan tahapan berisi unjuk kreatifitas pemikir. 

Pada tahap ideate, orang-orang yang melibatkan diri untuk berpikir dengan metode ini mengeluarkan berbagai ide dan sudut pandang segar. Semuanya diarahkan untuk menuntaskan masalah-masalah yang sudah terdefinisi dengan baik.

Oleh karena idealnya design thinking dilakukan oleh sebuah tim, maka kegiatan ideate juga perlu melibatkan lebih dari satu orang. Setiap desainer yang turut campur perlu mengerahkan isi kepalanya agar mendapatkan hasil maksimal.

Proses ideate sendiri bisa kamu lakukan dengan beberapa pola berpikir. Ada banyak teknik terkenal dalam menggali ide. Berikut beberapa di antaranya:

Analogi

Dengan mencoba melakukan perbandingan mengenai masalah yang tim hadapi dengan sesuatu lain yang mirip dan tim kenal. Baik hal-hal yang pernah terasa sendiri sebelumnya, atau orang lain alami.

Brainstorming

Aktivitas ini adalah kegiatan tukar pikiran. Tentu saja tak bisa terjadi kecuali melibatkan lebih dari satu orang. Semua peserta menyampaikan pandangannya untuk saling meminta respon peserta lainnya. 

Brain writing

Tidak ada kegiatan berbagi pendapat dengan cara lisan dalam teknik brainwriting. Konsepnya semacam sambung ide dengan menulis. Proses awalnya berupa penulisan ide oleh satu orang, lalu tulisan beralih kepada orang lain untuk menambah ide, begitu seterusnya hingga sempurna.

Brain walking

Konsepnya mirip-mirip dengan brainwriting. Hanya saja, ini memerlukan semacam stasiun ide yang berisi ide-ide peserta yang sudah tertulis sebelumnya. Setelah itu, semuanya berjalan mengelilingi setiap stasiun untuk menambahkan ide-ide milik orang lain.

Challenging assumption (asumsi menantang)

Tim yang melakukan proses design thinking juga bisa saja melakukan challenging assumption. Teknik berpikir ini dilakukan dengan menguji asumsi-asumsi yang keluar dari kepala anggota tim. Ini sangat menarik karena akan menghasilkan ide-ide konvensional yang sudah banyak orang memakainya.

Mind mapping (peta pikiran)

Teknik ini sudah sangat populer sejak Tony Buzan mencetuskannya pada 1970-an. Caranya dengan menghubung-hubungkan setiap ide yang muncul dalam kepala. Dengan memulainya dari satu kata berupa buah pikir utama.

Masih banyak teknik-teknik lain tentunya yang bisa membantu proses ideasi di tahap ketiga ini. Gunakan saja sesuai kebutuhan.

Tahap keempat: prototipe

Ketika ide sebuah produk atau layanan sudah jelas, maka beralih menuju tahapan prototipe. Tahapan ini akan mempersempit resiko rugi akibat ide produk yang gagal ketika publik merasakannya.

Jadi, sebelum di launching, produk mesti dibuat dulu dalam versi kecil atau dalam skala kecil. Orang-orang mengenal produk semacam ini dengan sebutan prototipe. Langkah ini penting sebelum menyebarluaskan produk dan layanannya secara massal.

Misalnya ketika sebuah tim sudah berhasil mendapatkan ide paling bagus untuk membuat kemasan produk makanan atau minuman, buat dulu beberapa saja. Kemudian, bagikan ke beberapa orang untuk mendapatkan masukan-masukan.

Tahapan ini perlu dilakukan agar produk benar-benar bagus sebelum diuji langsung ke masyarakat. Tim bisa melakukan penyempurnaan produknya dalam fase ini setelah menerima saran dan kritik. 

Bentuk prototipe bisa beragam tentu saja. Jika produknya fisik, bentuknya jelas fisik. Namun jika produk atau layanannya digital, tim bisa juga membuat prototipe dengan bentuk digital.

Tahap kelima: testing (menguji)

Tuntas dari tahap prototipe belum menandakan suatu produk benar-benar bagus. Bagaimanapun, masih ada kemungkinan pandangan-pandangan terbatas orang-orang dalam tahap prototipe berbeda dengan masyarakat sebenarnya.

Maka dari itu, masih perlu waktu untuk melakukan uji atau testing yang langsung mendapatkan respon masyarakat. 

Pada fase testing ini, pengguna memang bisa menggunakan produk. Hanya saja, desainer belum bisa berleha-leha karena perlu menampung respon pengguna. Mereka masih perlu memonitor dan melakukan evaluasi sebelum membiarkan produknya membesar dengan akses massal kepada masyarakat.

Setidaknya, ada 3 manfaat penting dari tahapan ini. Antara lain:

Menghemat anggaran

Dengan menguji terlebih dahulu, tim bisa lebih terbebas dari resiko rugi karena terlanjur melakukan produksi secara massal. Apalagi jika ongkos produksinya besar. Kerugian perusahaan bisa terminimalisir dan anggaran bisa teralokasi untuk hal-hal lain yang lebih bermanfaat.

Mengungkapkan hal-hal tak terduga

Hal-hal yang luput dari pandangan tim selama tahapan-tahapan sebelumnya bisa tim temukan ketika mengujinya dulu kepada masyarakat dalam skala kecil. Tentu mendeteksi hal baru dan melakukan perbaikan atasnya akan membuat produk lebih siap ketika menyebar dengan lebih luas.

Meningkatkan kepuasan pengguna

Dengan melakukan testing langsung kepada masyarakat, tim bisa mendapatkan masukan yang lebih real. Dengan demikian, kemungkinan pelanggan puas dalam jumlah lebih banyak dan waktu lebih lama meningkat.

Bisa jadi, untuk membuat tahapan produk benar-benar mantap, memerlukan proses pengujian secara berulang. Hal ini mungkin memakan waktu, namun akan lebih baik ketimbang membiarkan produk gagal menyebar secara massal.

Contoh design thinking dalam bisnis

Bagaimana, apakah sudah cukup memahami tentang design thinking? Memahami ini sangat penting apalagi jika kamu menerjuninya dunia bisnis dan pemasaran.

Faktanya, banyak perusahaan raksasa yang diketahui mengadopsi metode ini. Antara lain:

  • Apple
  • IBM
  • SAP
  • Lego
  • BMW 
  • Microsoft
  • Toshiba
  • Google
  • Gojek
  • Airbnb
  • Uber

Kali ini, Tugas Karyawan akan mencoba memberikan contoh design thinking dalam bisnis dua perusahaan besar diantaranya secara sederhana. Semoga ini membantu menambah tajam gambaranmu tentangnya.

Contoh Apple/iPhone

Steve Jobs benar-benar terlihat memulai seluruh proses peluncuran produknya dengan fase empati. Sebelum merancang produk-produknya, Apple melihat beberapa hal ini:

  • Kebutuhan masyarakat terhadap ponsel bukan hanya untuk kebutuhan bisnis.
  • Keinginan terhadap produk-produk sederhana tapi ramah ketika digunakan.
  • Keperluan sebagian masyarakat yang terhadap eksklusivitas dan kemewahan.
  • Kebutuhan pengguna bukan pada fitur ponsel yang banyak, tapi pengalaman yang sifatnya menyeluruh saat menggunakannya.

Dari kesimpulan-kesimpulan semacam itulah produk-produk Apple diciptakan. Steve Jobs mencoba keluar dari pakem-pakem kompetitornya dalam mencetak produk-produk hebat.

Misalnya ketika pada tahun 2007 seluruh merk ponsel berlomba-lomba meluncurkan ponsel dengan keypad, maka Apple tak ragu mendobraknya. Kala itu Apple hadir dengan produk ponsel dengan fitur touchscreen tanpa keypad sama sekali.

Buah pikir kreatif ini merupakan hasil empati mendalam terhadap masalah pengguna yang membutuhkan pengalaman kepraktisan. 

Tak heran meski pada awalnya mendapatkan cibiran, dalam perkembangannya justru langkah Apple diikuti semua kompetitornya. Bahkan, ponsel dengan model keypad sekarang nyaris tak ada lagi di muka bumi.

Bukan hanya itu, terobosan-terobosan Apple untuk memberikan pengalaman lebih hebat kepada pengguna juga bisa dirasakan ketika Apple mempopulerkan multi touch.

Teknologi ini bisa membuat banyak orang lebih mudah dalam melakukan banyak hal di ponsel pintarnya. Misalnya ketika hendak melakukan zoom pada gambar, zoom pada peta, dan sebagainya. Dengan menaruh dua jari dengan cara mencubitnya, itu semua bisa terlaksana

Contoh Gojek/Transportasi Online

Siapa yang masih ingat, bagaimana kondisi Indonesia ketika aplikasi Gojek dan Grab baru tersebar?

Ingatlah saat itu terjadi benturan hebat. Bahkan ketika itu sering terjadi demo-demo yang dari kalangan supir-supir transportasi konvensional. Beberapa peristiwa kekerasan juga sempat terjadi.

Namun faktanya, aplikasi semacam Gojek ini sulit terbendung. Mengapa? Bagaimanapun, Gojek telah menjawab kebutuhan pengguna soal transportasi umum.

  • Pengguna butuh kepraktisan pemesanan, tanpa perlu datang ke pangkalan, terminal, atau jalur trayek bisa pesan.
  • Kebutuhan terhadap keamanan dengan mengetahui latar belakang supir untuk terhindar dari kejahatan.
  • Pengguna butuh kepraktisan pembayaran ketika sewaktu-waktu tidak mempunya uang cash.

Beberapa problem di atas terealisasi dalam bentuk aplikasi oleh aplikasi transportasi online. Masyarakat yang terlanjur merasa termudahkan, sulit untuk menolaknya meski banyak supir-supir melakukan penolakan.

Dengan adanya, Gojek dan sejenisnya, naik ojek dan taksi tinggal tunggu di rumah, bayar bisa via ATM, dan tak puas dengan supir bisa kasih review jelek. 

Maka tak heran apabila penggunaannya makin hari makin meluas. Kamu pasti termasuk salah satunya kan?

Setelah memahami design thinking, apakah kamu terketuk untuk mengaplikasikannya? Adakah hasil empatimu terhadap masyarakat memancingmu untuk berpikir membuat hal-hal baru dan kreatif?

Design thinking adalah keterampilan yang bisa kamu asah. Jika hari ini merasa tak layak untuk melakukannya, bukan tak mungkin kelak kamu jadi orang terampil berpikir semacam ini.

2.4/5 - (22 votes)
Share:

Tinggalkan komentar