Mindfulness : Pengertian, Tujuan, Manfaat, Cara Melakukan & Pandangan Islam

Mindfulness adalah salah satu varian cara meditasi yang sebagian orang tempuh untuk menenangkan pikirannya.

Dalam kehidupan masyarakat dengan tingkat stres tinggi, cara cara menenangkan pikiran jelas menjadi sangat penting. Ada banyak cara untuk mewujudkan ketenangan itu. Mindfulness hanyalah salah satu.

Apakah kamu tertarik mengetahui metode meditasi yang satu ini? Kalau tertarik, kamu bisa lanjutkan membaca artikel dari Tugas Karyawan ini. 

Pengertian Mindfulness

Mindfulness atau kesadaran merupakan kemampuan mendasar pada diri manusia untuk hadir sepenuhnya. Menyadari dimana ia berada, apa yang ia lakukan, dan mampu bersikap bijak (tidak reaktif dan tidak kewalahan) dengan berbagai hal yang terjadi di sekitarnya.

Sebenarnya, semua manusia punya potensi untuk sampai pada titik kesadaran. 

Hanya dalam konsep mindfulness yang sedang kita bahas ini, manusia perlu melakukan beberapa hal sebagai bagian dari belajar untuk mengakses kondisi mindfulness (kesadaran).

Maka dari itu, menurut teorinya, semua manusia bisa untuk sampai pada mindfulness. Ada potensi untuk sampai pada titik ini.

Prinsip mindfulness

Sebagai suatu konsep, ada beberapa hal esensial yang harus kamu pahami tentang mindfulness. 

Menurut Jon Kabat Zinn, salah satu tokoh utama dalam konsep ini,  mencapai titik mindfulness bisa manusia lakukan manakala mereka memegang prinsip mindfulness dalam kehidupannya.

Prinsip ini sering juga orang sebut sebagai 7 pilar kehidupan.

Apa saja? Berikut penjelasan dan poinnya.

1. Non judgement (Tidak menghakimi)

Poin pertama ini berarti bahwa mindfulness bisa tercapai ketika manusia tak lagi memandang manusia secara hitam dan putih. Dengan kata lain, manusia tak perlu menilai sesuatu itu baik atau buruk.

Alih alih seperti itu, konsep ini mendorong manusia menilai sesuatu atas kesadaran alamiahnya yang bersifat otomatis muncul. Katanya, dengan cara semacam ini, manusia bisa mengatasi persoalan dalam kehidupannya.

2. Sabar

Selain itu, mindfulness juga menekankan soal kesabaran.

Maksudnya, manusia perlu menyadari bahwa semua ada waktunya. Kata anak muda zaman sekarang, “Indah pada waktunya.”

Jadi, manusia tak perlu reaktif ketika menjumpai berbagai peristiwa yang ada di sekitarnya. Terutama saat berbagai keinginannya tak terwujud sesuai harapan.

Mindfulness menekankan manusia agar menjalani hidup apa adanya. Tak usah terburu buru dan terlalu terpaku pada masa depannya. 

Jalani saja dengan santai.

3. Berpikir layaknya pemula (Beginner minds)

Menurut teorinya, manusia akan kehilangan dirinya sendiri kita merasa merasa sudah mengetahui segalanya.

Baik mendengar, melihat, maupun mengalami.

Padahal, dunia ini selalu berubah dan selalu ada hal hal baru dalam kehidupan. Momen di masa kini tak sama dengan momen masa lalu. Begitu juga momen hari ini juga pasti beda dengan yang akan datang.

Maka sebaiknya biarkan hal hal baru itu masuk apa adanya, manusia cerna, tanpa tersaring oleh berbagai hal yang manusia yakini sudah mengetahuinya.

4. Kepercayaan (Trust)

Bagi penganut kepercayaan mindfulness,  kedamaian hidup akan tercapai manakala manusia percaya dengan keyakinan dan intuisi diirinya sendiri.

Kepercayaan inilah yang konon akan membimbing manusia untuk menggapai cita citanya dan senantiasa ada pada jalan yang benar.

Meskipun sebelumnya telah kami singgung bahwa teori ini mendorong manusia terbuka dengan hal hal baru di sekitarnya, namun setiap keputusan mesti manusia pilih berdasarkan pikiran dan keyakinannya.

5. Tidak berusaha keras (Non striving)

Ketika banyak motivator pengembangan diri mendorong manusia bekerja keras, mengapa mindfulness sebaliknya?

Dalam pandangan konsep ini, berusaha keras yang dimaksud adalah berusaha selalu berbeda dan lebih baik dari yang lain. Menurut teorinya, ini adalah cara berpikir dan tindakan yang mengganggu.

Maka dari itu, pilar mindfulness mendorong manusia untuk senantiasa menyadari siapa dirinya dan merasa cukup dengan apa yang ia miliki.

Hal ini mereka percaya akan memberikan kenyamanan dan selanjutnya mampu berkonsentrasi pada hal hal yang lebih penting.

6. Penerimaan (Acceptance)

Apa maksudnya penerimaan?

Poin ini bukan berarti mendorong manusia untuk merasa puas dalam hal hal buruk dalam kehidupannya. Sehingga ia membiarkan diri dalam keburukan tersebut.

Maksud dari konsep acceptance adalah belajar dalam menerima fakta sebagaimana adanya. Manusia perlu menghindarkan diri dari bias bias yang membuatnya tak mampu menerima sesuatu sebagaimana mestinya.

7. Melepaskan (Letting go)

Pilar paling akhir dari konsep mindfulness adalah melepaskan.

Apa yang dilepaskan?

Jawabannya adalah kekhawatiran dan beban beban yang menumpuk dalam pikiran manusia. Terutama soal perhatiannya pada masa depan.

Hal semacam ini dianggap sebagai salah satu hal peningkat stres. 

Maka dari itu, alih alih mengkhawatirkan ini dan itu, sebaiknya manusia fokus terhadap apa yang ia jalani di depannya.

Tujuan Mindfulness

Lalu, apa tujuan orang  orang belajar tentang mindfulness?

Pada dasarnya, tujuannya dapat dijelaskan dalam kalimat yang singkat.

Tujuan mindfulness adalah membuat manusia mencapai keadaan siaga (kesadaran penuh), merasa rileks dan fokus, lalu dengan sengaja memberi perhatian terhadap pikiran dan sensasi tanpa penilaian.

Ujungnya, manusia diharapkan menjadi lebih tenang dan fokus dengan apa yang ia hadapi hari ini. 

Manfaat Mindfulness

Orang orang yang mempelajari, melatih diri, dan menerapkan mindfulness dalam kehidupannya terdorong oleh manfaat mindfulness yang mereka yakini.

Tentu saja muara dari semua manfaat yang ingin mereka capai adalah kualitas hidup yang lebih baik.

Bila kami rinci, setidaknya ada 3 manfaat yang diyakini bisa terwujud ketika manusia bisa mencapai titik mindfulness. 

1. Mindfulness meningkatkan kesejahteraan hidup

Manusia pada umumnya hidup memburu kata ‘sejahtera’.

Lantas, apa yang dimaksud dengan kesejahteraan?

Mindfulness memandang bahwa sejahtera itu ketika..

  • Manusia merasa senang dalam kehidupan yang ia alami saat ini.
  • Manusia terlibat atau menyadari secara penuh setiap aktivitas yang ia lakukan.
  • Mampu menciptakan kapasitas atau kekuatan lebih besar ketika menghadapi berbagai kejadian buruk.

Sebaliknya, manusia berada dalam kondisi jauh dari sejahtera ketika..

  • Terjebak dalam berbagai kekhawatiran tentang masa depan tak pasti.
  • Terlalu berlebihan dalam menyesali berbagai hal yang pernah ia lakukan pada masa lalu.

Dengan melatih diri dengan mindfulness, diyakini bahwa manusia tak akan terjebak pada dua kondisi di atas. Manusia jadi tak begitu menjadikan persoalan kesuksesan dan harga diri sebagai beban dalam hidupnya.

Jadi, mereka juga mampu berhubungan dengan orang lain dan memandang sekitarnya secara lebih baik.

2. Mindfulness meningkatkan kesehatan fisik

Berdasarkan penelitian dari para ilmuwan, orang yang menjalani teknik mindfulness dan berusaha mencapainya juga rata rata orang yang sehat fisiknya.

Jadi, bukan hanya sejahtera, tapi sehat.

Beberapa penyakit yang dianggap mampu reda dengan mindfulness ini antara lain :

  • Membantu untuk mengurangi tingkat stres
  • Mengobati penyakit jantung
  • Menurunkan tekanan darah bagi yang punya darah tinggi
  • Mengurangi rasa nyeri yang sudah pada tahap kronis (parah)
  • Memperbaiki kualitas tidur
  • Mengurai orang yang punya kesulitan dalam pencernaan

Sudah menjadi rahasia umum, bahwa penyakit juga bisa jadi akibat pikiran yang kurang sehat. Banyak penyakit penyakit berat timbul dengan pemicu stres.

Maka, ketika mindfulness punya tujuan untuk membawa manusia pada ketenangan, ketika itu pula sebagian orang meyakini ia juga mampu memberi pengaruh bagi kesehatan fisik.

3. Mindfulness meningkatkan kesehatan mental

Selain berbagai penyakit yang menyerang organ fisik, sebagian orang juga percaya bahwa melatih diri dengan mindfulness akan membuat mentalnya sehat.

Konsep meditasi yang teknik ini usung setidaknya diyakini dapat membantu menyelesaikan beberapa problem berikut:

  • Depresi
  • Gangguan makan
  • Konflik dengan pasangan
  • Gangguan kecemasan
  • Penyalahgunaan zat terlarang
  • Gangguan obsesif kompulsif

Maka dari itu, orang orang dengan gangguan mental juga ada yang melakukan terapi dengan teknik mindfulness. Katanya, teknik ini mampu membuat mental manusia menjadi lebih sehat.

Dari sini juga dapat ditarik kesimpulan bahwa mindfulness dalam psikologi juga merupakan hal yang berhubungan.

Cara melakukan mindfulness

Setelah mengetahui berbagai teori dan seluk beluk seputar mindfulness, lantas bagaimana cara melakukan mindfulness?

Bagaimana cara melatihnya agar manusia berada pada titik ini?

Setidaknya, ada beberapa cara melatih mindfulness. Kamu bisa membaca uraiannya berikut ini. Langkah yang kami bagi ini sesuai dengan penjelasan Mark Williams, seorang profesor sekaligus mantan direktur dari Oxford Mindfulness Center.

Memperhatikan berbagai hal setiap hari atau waktu

Dalam sehari, ada banyak hal yang manusia lakukan. Coba bayangkan, ada berapa tindakan yang kamu perbuat dari bangun hingga tidur lagi? Banyak bukan?

Untuk mencapai mindfulness, maka manusia perlu memperhatikan sensasi berbagai hal yang ia temukan dalam hidupnya.

Mulai dari makanan yang ia makan, suara yang terdengar di sekitar nya, hingga hal terkesan remeh temeh seperti udara yang sedang bergerak melalui tubuh manusia.

Cara semacam ini menghindarkan manusia untuk melakukan berbagai hal secara autopilot alias tanpa kesadaran. Jika hidup manusia didominasi oleh cara autopilot, ia mungkin akan kehilangan makna dalam menjalani hidup.

Jaga semuanya agar bisa terlaksana dengan teratur

Kesadaran dalam hidup juga bisa manusia dapatkan ketika melatih diri untuk senantiasa teratur dalam menjalani kehidupannya.

Baik soal tempat, maupun soal waktu.

Misalnya, manusia punya waktu rutin berjalan jalan saat siang hari, memilih waktu tertentu di pagi hari untuk pergi beraktivitas ke kantor, atau ketika bercengkrama dengan keluarga.

Sebaiknya, itu manusia lakukan dengan teratur dan menjaganya agar tetap seperti itu berulang ulang.

Hal ini juga dianggap akan mampu mengantarkan manusia untuk mengakses titik mindfulness.

Mencoba sesuatu yang baru

Mindfulness juga dapat dilatih dengan mendorong diri untuk tak antipati dengan berbagai hal baru.

Meskipun hal baru yang kami maksud adalah hal sepele.

Misalnya, ketika rapat, duduknya jangan melulu di tempat yang sama. Ketika pergi makan siang, datangi tempat makan yang berbeda.

Begitu juga dalam hal lainnya.

Dengan melakukan ini, diyakini manusia akan terbantu memperhatikan dunia dengan cara baru. Berpikiran terbuka terhadap berbagai hidup ini dipercaya menambah kebahagiaan.

Memperhatikan pikiran

Salah satu problem ketika seseorang belajar melatih mindfulness, pikiran mereka mungkin ‘benar’ ketika sedang berlatih, namun ketika memberi jeda berhenti latihan, maka pikirannya kembali kacau.

Muncul lagi berbagai macam pikiran buruk dan kekhawatiran yang mengganggu mental.

Maka dari itu, Profesor Mark Williams meluruskan orang orang yang mau melatih diri dengan mindfulness, bahwa apa yang mindfulness beri bukanlah membuat berbagai pikiran buruk itu pergi.

Hal yang lebih tepat adalah memandang berbagai pikiran tersebut sebagai peristiwa mental.

Jadi, berbagai pikiran yang datang itu perlu dikelola dan direspon dengan lebih baik. Dengan demikian, pikiran jadi lebih jernih.

Membebaskan diri dari masa lalu 

Ada banyak ungkapan bahwa experience is the best teacher. Pengalaman di masa lalu adalah guru paling baik bagi kehidupan manusia.

Namun mindfulness memandang bahwa tak melulu faktanya semacam itu. Seringkali memikirkan masa lalu justru mengganggu pikiran.

Terutama, ketika memikirkan mengenai hal hal yang dapat memicu munculnya rasa sesal.

Maka sebisa mungkin, manusia perlu melatih diri untuk tak begitu memikirkan masa lalu semacam itu. Berusaha memaafkan diri dan berkompromi dengan kesalahan yang dulu pernah dilakukan, lalu fokus untuk menjalani hari yang ia alami.

Membebaskan diri dari masa depan

Banyak orang juga menggembar gemborkan slogan agar manusia senantiasa memikirkan masa depannya.

Namun dalam kadar tertentu, cara semacam ini justru bisa membuat manusia penuh dengan pikiran buruk dan kekhawatiran tak perlu.

Kondisi ini akhirnya menjebak manusia sehingga kurang fokus dalam menjalani kehidupannya.

Maka dari itu, manusia juga perlu berlatih untuk lebih fokus pada momen yang ia hadapi saat ini. Penuhi diri dengan kesabaran atas apa yang telah menjadi ketetapan untuknya.

Meditasi

Cara terakhir yang dipercaya bisa menghadirkan mindfulness dalam kehidupan manusia adalah dengan meditasi.

Apa itu meditasi?
Yakni melakukan kegiatan duduk sambil melakukan berbagai hal:

  • Fokus diam
  • Memperhatikan pikiran
  • Memperhatikan suara
  • Merasakan sensasi pernafasan dan bagian tubuh
  • Mengajak pikiran untuk kembali fokus ketika ia mulai mengembara kemana mana.

Bentuk meditasi yang banyak orang kenal adalah Yoga dan Taichi.

Mindfulness dalam Islam

Bagian paling akhir dari artikel ini kami tulis hanya untuk yang muslim. Bagi yang bukan, kami menyarankan kamu tak membacanya. Tapi kalau penasaran, boleh boleh saja kamu baca. Hehe..

Jadi, bagaimana mindfulness dalam Islam? Apakah seorang muslim perlu melatih diri dengan mindfulness?

Kami akan mencoba menjawabnya.

Pertama tama, harus kamu garis bawahi bahwa konsep mindfulness ini lahir dan berkembang di tangan Kabat Zinn pada tahun 1990.

Secara konsep, mindfulness berakar pada berbagai filosofi ajaran buddha.

Padahal, apa yang berusaha konsep mindfulness sasar juga ada dalam ajaran Islam. Beberapa poin yang kami maksudkan antara lain:

Konsep dalam sholat

Sholat adalah tiang dari agama Islam. Setiap muslim melakukannya minimal lima kali sehari (shalat wajib). Kalau rajin melakukan shalat sunnah, tentu jumlahnya bisa lebih banyak lagi.

Kamu pasti sudah tahu, bahwa dalam shalat terdapat perintah khusyuk. Ibadah ini mendorong kita untuk tenang dan fokus mengingat Allah.

Pada saat bersamaan, kita berlatih untuk membuang berbagai pikiran buruk dalam kehidupan. Baik soal masa lalu ataupun bayangan buruk masa depan.

Maka selain mendapatkan pahala, shalat juga kerap kali memberikan ketenangan bagi pelaksanaannya.

Keyakinan soal rezeki dalam Islam

Titik krusial yang menurut teori mindfulness jadi pemicu manusia mentalnya terganggu adalah soal ketakutan akan masa depan. Terutama soal rezekinya.

Islam sebenarnya sudah mendorong penganutnya untuk meyakini, bahwa rezeki itu ada di tangan Allah. Allah menjamin rezeki semua makhluk di muka bumi, bahkan untuk seekor cacing yang tak punya tangan dan kaki untuk bekerja layaknya manusia.

Tugas manusia adalah berfokus ikhtiar pada hari hari yang ia jalani.

Allah hanya mewajibkan ikhtiar dan tak membebani manusia untuk jadi kaya raya. Sepanjang ikhtiarnya bagus, itu jadi nilai tambah di hadapan Nya.

Jadi, seorang muslim sebaiknya fokus pada pekerjaan yang ia lalui hari ini. 

Tak perlu begitu sibuk soal ada atau tidaknya rezeki di masa mendatang.

Konsep soal sabar dan syukur

Salah satu pilar mindfulness adalah sabar. Dengan meyakini bahwa apa yang tiba hari ini adalah hal terbaik. Manusia tak usah risau karenanya.

Sejatinya, Islam juga mewajibkan manusia untuk bersabar.

Bagi seorang muslim, ketika terjadi sesuatu yang dianggap buruk, maka sudah selayaknya bersabar. Sebaliknya, ketika terjadi sesuatu yang dianggap baik, maka selayaknya bersyukur.

Cara pandang semacam ini bisa membuat manusia jadi lebih tenang. Mereka tidak rentan depresi dan stres.

Kebanyakan penyakit mental ini muncul karena manusia tak sabaran. Tak mampu bersikap qanaah ketika menjumpai apa yang tak sesuai harapannya.

Konsep soal sumber waswas

Pikiran pikiran buruk yang mengganggu dalam hidup, kerap kali bentuknya berupa rasa was was.

Takut ini dan takut itu. Ketika hendak berbuat baik, manusia malah sibuk dengan berbagai pikiran yang membuatnya terlalu banyak mempertimbangkan.

Pikiran semacam ini juga bisa jadi sumber stres.

Padahal, dalam Islam jelas bahwa sumber dari was was itu adalah bisikan setan. Nah, bisikan ini jelas perlu diabaikan bahkan dibuang.

Dengan menyadari ini, mental manusia juga bisa jadi lebih sehat.

Konsep soal dzikir

Dzikir, atau mengingat Allah, sejatinya juga bisa membuat manusia bisa lebih fokus.

Dalam Islam, dzikir ini juga bagian dari perintah Allah.

Berdiam duduk dan berfokus untuk ‘berkhalwat’ dengan Allah, berdoa, mencurahkan segala keluh kesah, semuanya sudah lebih dari cukup untuk memberikan ketenangan.

Semakin sering manusia berdzikir, maka biasanya hidupnya akan semakin tenang. Ia akan senantiasa optimis dalam menjalani hidup.

Konsep soal tafakur dan tadabbur

Ketika mindfulness mendorong manusia untuk mengamati hal hal kecil di sekitar kehidupannya, sejatinya Islam juga mengajarkan itu.

Islam mendorong manusia untuk bertafakur dan bertadabbur, berfikir, mengamati, serta mengambil berbagai makna dari alam semesta.

Mengamati betapa lembutnya hembusan angin, kokohnya gunung, dalamnya lautan, tingginya langit, dan sebagainya.

Tak lupa juga belajar dari hikmah hewan hewan kecil seperti semut, laba laba, lebah, dan lainnya.

Konsep soal amal tergantung niat

Sebagaimana sudah kami singgung, mindfulness mendorong manusia untuk menghindari kondisi autopilot saat melakukan berbagai kegiatan.

Tahukah kamu, dalam Islam juga seperti itu kok.

Dalam sebuah hadits terkenal, Rasulullah Saw menyebut bahwa amal perbuatan manusia itu tergantung pada niatnya.

Jadi, ketika beramal, manusia harus menyertai dan mendahuluinya dengan niat. Dengan demikian ia ada pada posisi sadar ketika beramal. Tidak otomatis layaknya mesin yang berjalan melalui tombol program.

Dengan berbagai konsep Islam mengenai hal hal di atas, sejatinya tanpa bantuan mindfulness, seorang muslim sudah bisa hidup dengan penuh ketenangan dan berada di jalan benar.

Penutup

Seluruh pembahasan yang sudah kami sajikan di atas tentunya bisa kamu jadikan tambahan wawasan sekaligus pertimbangan. Mudahan mudahan memang bermanfaat.

Akhir kata, mindfulness adalah salah satu metode untuk mencapai kebahagiaan dalam hidup. Ada banyak metode lain yang manusia bisa tempuh. Pertanyaannya, kamu percaya metode yang mana?

Tinggalkan komentar