Tugaskaryawan.com – Banyak pemilik atau pemimpin perusahaan lebih suka menerima karyawan yang sudah mempunyai pengalaman kerja sekian tahun. Logikanya, memang kandidat yang berpengalaman akan lebih siap bekerja. Bahkan pengalaman kerjanya bisa membantu memajukan tempat kerjanya yang sekarang.
Namun, tidak memberi kesempatan kepada lulusan baru atau fresh graduate untuk bekerja bukan hanya sikap yang tidak adil. Apabila semua pemilik usaha bersikap begini, angka pengangguran di usia dua puluhan akan melonjak dan lambat laun tidak ada regenerasi.
Karyawan tambah senior tambah mendekati masa pensiun. Penerusnya mesti dipersiapkan sejak dini melalui penerimaan karyawan fresh graduate. Memang sisi minus karyawan baru lulus kuliah bukan hanya belum berpengalaman, tapi juga mudah ingin resign. Namun, resiko itu bisa diminimalkan dengan menerapkan beberapa tips mengelola karyawan fresh graduate agar tidak cepat resign di bawah ini.
Cara Mempertahankan Karyawan Fresh Graduate Agar Tidak Cepat Resign
Berikut adalah beberapa cara mempertahankan karyawan fresh graduate agar tidak cepat resign:
1. Sering Mengajak Berdiskusi dan Menindaklanjuti Masukannya
Anak muda suka dilibatkan dalam beberapa hal penting. Sekalipun pengalaman kerjanya belum ada sama sekali, bukan berarti mereka tidak memiliki aspirasi. Justru pendapat mereka penting untuk menciptakan inovasi.
Khususnya jika produk yang dihasilkan oleh perusahaan membidik kalangan anak muda sebagai target utamanya. Meski kamu dan rekan-rekan yang lebih senior sudah makan asam garam, jangan meremehkan karyawan fresh graduate. Memang mereka biasanya terlihat hanya diam dan menurut.
Akan tetapi, sikap atasan yang kurang menghargai akan menimbulkan rasa ketidakpuasan yang besar. Diam-diam mereka mulai memikirkan untuk mencari pekerjaan yang lain. Ujung-ujungnya kamu kaget ketika tiba-tiba mereka mengundurkan diri. Padahal, dirimu sebagai pimpinan yang kurang peka terhadap kebutuhan mereka untuk didengarkan dan dilibatkan.
2. Mengatur Pekerjaan Supaya Tidak Sering Lembur
Fresh graduate tentu masih berusia muda. Mereka berada di usia awal 20-an. Energi mereka besar dan lagi senang-senangnya begadang. Akan tetapi, salah besar apabila kamu memaknainya sebagai karyawan muda yang bisa disuruh lembur kapan saja dan terus-terusan.
Lelah tetaplah lelah. Jika mereka sebetulnya masih kuat dari segi fisik, perasaan ditindas yang akan mendorong mereka untuk memberontak. Lagi pula, kantor yang sering lembur disebabkan oleh dua hal.
Pertama, pengelolaan pekerjaan yang kurang profesional. Kedua, jumlah karyawan terlalu sedikit dibandingkan dengan pekerjaan. Jika lembur sudah menjadi budaya di kantor sehingga seakan-akan wajib dilakukan, harus segera ada pembenahan. Daripada karyawan muda di kantormu selalu cuma bertahan selama setahun, bahkan beberapa bulan saja.
3. Memberi Gaji dan Bonus yang Layak
Hanya karena lulusan baru dan belum memiliki pengalaman kerja, bukan berarti mereka boleh diupah rendah. Memang pengalaman menaikkan posisi tawar di dunia kerja. Akan tetapi, syarat upah minimum wajib dipenuhi.
Gaji juga disesuaikan dengan pendidikan akhir dan posisi yang dilamarnya. Begitu pula bonus harus diberikan sesuai dengan haknya. Jangan main potong dan apalagi meniadakan bonus.
Orang yang barusan lulus kuliah memiliki idealisme sekaligus harapan yang tinggi mengenai upah. Apabila mereka dibayar terlalu rendah, kamu tidak bisa mengharapkan loyalitas mereka. Pengusaha jangan beralasan bahwa tenaga kerja mudah lebih penting mendapatkan pengalaman dulu.
Tujuan utama orang bekerja pasti mencari penghidupan yang layak. Modal pengalaman kerja saja tidak bisa membuat bayar kos-kosan, berobat kalau sakit dan lain sebagainya. Selama gaji dan bonusnya pantas, fresh graduate sudah termotivasi untuk bertahan.
4. Pembayaran Juga Harus Lancar
Gaji dan bonus yang manusiawi seperti di poin sebelumnya jangan sampai hanya hitam diatas putih saja. Tertuang dalam perjanjian kerja, tapi tidak ditepati dalam praktiknya. Gaji tidak boleh terlambat dibayarkan.
Telat sehari saja, karyawan pasti akan merasa kesal. Apalagi pekerja muda yang sudah mempunyai banyak rencana terkait pemakaian uangnya. Bukan masalah apabila mereka tidak sabar gajian karena mau buru-buru untuk staycation.
Itu haknya dan kewajiban pemberi kerja hanyalah membayarnya sesuai dengan jumlah yang disepakati plus tepat waktu. Jangan pula ada pemikiran gaji tepat waktu, tapi bonus dibayarkan molor tidak apa-apa. Hak tetap hak yang harus dipenuhi olehmu sebagai pemberi kerja. Kalau pembayarannya macet, mereka akan ogah-ogahan dalam bekerja lalu resign.
5. Membuat Acara Seru-Seruan Secara Berkala
Tentu dunia kerja menjadi dunia yang profesional. Namun, tidak harus kaku sekali. Seakan-akan urusan antara karyawan dan atasan hanyalah tentang pekerjaan. Apalagi mengingat sebagian karyawan masih sangat muda.
Ingat-ingat ketika kamu seumur mereka. Meski keinginan bekerja sangat tinggi dan ketertarikan terhadap segala hal yang menyenangkan juga besar. Main dan jalan-jalan masih menjadi sumber kegembiraan yang sayang untuk dilewatkan.
Memanfaatkan kondisi ini buat mempererat hubungan antar karyawan dan karyawan dengan atasan. Agendakan wisata bersama secara rutin. Misalnya, 1 atau 2 bulan sekali. Hal ini menciptakan suasana kerja dan hubungan antar pribadi yang lebih menyenangkan.
Cara mengelola karyawan fresh graduate agar tidak cepat resign memang lebih menantang. Mereka mudah merasa kesal, ngambek, kemudian ingin berhenti bekerja. Gaya kepemimpinan yang dibutuhkan untuk situasi ini adalah kombinasi antara tetap tegas, ngemong, sekaligus tahu kapan waktunya menjadi seperti teman. Semoga membantu dan bermanfaat!