Mengenal Employment Risk dan Penerapannya di Dunia Kerja

Employment risk adalah hal yang harus perusahaan perhitungkan dan menej sebagai bagian dari kewajibannya. Terutama apabila perusahaan berada dalam ranah industri dengan resiko tinggi.

Lantas, sebenarnya apa yang dimaksud employment risk? Bagaimana penerapannya di dunia kerja? Apa saja yang perlu perusahaan lakukan sebagai bagian dari kegiatan ini?

Tugas Karyawan akan membahasnya dalam artikel ini. Baca sampai habis ya!

Pengertian Employment Risk

International Risk Management Institute, sebuah lembaga yang bermarkas di Dallas, Amerika Serikat, mendefinisikan employment risk sebagai risiko yang melekat pada pekerjaan atau  atau tempat kerja karyawan.

Meskipun subjek dari topik ini adalah karyawan, namun perusahaan juga perlu untuk memberikan perhatian penuh kepada employment risk.

Mengapa?

Karena ketika suatu perusahaan mempekerjakan karyawan, maka sepanjang bekerja, seluruh karyawan akan menghadapi lingkungan yang mereka siapkan.

Dari sekian banyak job desk yang perusahaan berikan, sangat mungkin sebagian di antaranya berisiko bagi karyawan. Mungkin ada pekerjaan pekerjaan yang berpotensi membuat karyawan celaka, sakit, lumpuh, bahkan mati.

Di berbagai negara, ada aneka ragam kebijakan pemerintah ketika situasi semacam itu terjadi. Perusahaan dan karyawan terikat dengan perjanjian manakala risiko itu ada. 

Jelas, pihak yang berkewajiban menanggung adalah perusahaan. Ada ganti rugi yang harus perusahaan berikan kepada karyawan atau keluarga mereka.

Baca Juga:  Apa Itu Freelance? Pengertian, Jenis, Kelebihan, Gaji, Skill

Belakangan, perusahaan menyerahkan pengelolaan ini kepada berbagai perusahaan asuransi ketenagakerjaan. Caranya dengan membayarkan biaya asuransi bulanan karyawannya.

Namun bagaimanapun, perusahaan tetap harus untuk berusaha melakukan pengelolaan agar resiko karyawan itu tidak terjadi. 

Langkah identifikasi bahaya oleh perusahaan

Sebagai perusahaan profesional, sudah selayaknya untuk melakukan identifikasi mengenai aspek apa saja yang termasuk dalam kategori identifikasi bahaya.

Prinsip awalnya, perusahaan perlu melakukan langkah langkah mitigasi untuk mencegah karyawan mendapatkan resiko yang tak diinginkan.

OSHA atau Occupational Safety and Health Administration memberikan standar mengenai langkah yang perlu perusahaan lakukan.

Berikut langkah langkahnya:

1. Mengumpulkan segala info tentang potensi bahaya di tempat kerja

Hal ini bisa perusahaan lakukan dengan melakukan berbagai hal. 

Mulai dari melakukan pemantauan medis karyawan, material kimia yang ada di lingkungan kerja, pola kecelakaan yang pernah terjadi, hingga mengambil masukan dari pekerja, atau menggunakan tools seperti JSA (Job Safety Analysis)

2. Melakukan inspeksi secara langsung untuk menemukan potensi bahaya

Inspeksi ini sebaiknya perusahaan lakukan secara rutin dengan melibatkan pekerja dan laporan laporan dari mereka

Setiap inspeksi juga perlu perusahaan dokumentasikan. Hal ini mencakup berbagai kegiatan di perusahaan. Jika perlu, perusahaan juga bisa membuatnya dalam bentuk formulir untuk mendata risiko bahaya.

3. Melakukan identifikasi bahaya terhadap kesehatan kerja

Bahaya juga bisa memicu ranah kesehatan karyawan. Bisa jadi lingkungan perusahaan dan operasionalnya membuat karyawan terkena berbagai penyakit.

Maka, perusahaan perlu identifikasi berbagai hal berhubungan dengan ini. Misalnya bahaya bahan kimia, bahaya bilogis dari jamur atau hewan, bahaya ergonomi, hingga melakukan pemeriksaan untuk mendapatkan data rekam medis karyawan.

4. Melakukan investigasi untuk setiap insiden yang terjadi

Upaya juga dapat perusahaan lakukan dengan menginvestigasi setiap insiden kecelakaan kerja yang terjadi di lingkungan. 

Baca Juga:  Komunikasi Bisnis: Pengertian, Manfaat, Jenis & Tujuan

Investigasi perusahaan lakukan dengan mengacu pada standar objektvitas serta keterbukaan selama proses penyelidikan berlangsung. Dalam hal ini, tujuannya adalah melakukan analisis terhadap akar terjadinya insiden sehingga bisa perusahaan jadikan dasar dalam perbaikan sistem K3.

5. Melakukan identifikasi bahaya dari hal hal darurat dan temporal (tidak rutin)

Bukan tak mungkin, bahaya juga datang dari hal hal tak terduga yang datang dalam keadaan darurat tertentu. Terjadinya mungkin hanya satu atau beberapa kali dalam kurun waktu tertentu.

Bahaya bahaya semacam ini misalnya kebakaran, bahan kimia yang tumpah, wabah sakit, bencana alam, dan lainnya. Perusahaan juga perlu identifikasi dan memiliki standar untuk menangani berbagai problem ini.

6. Mengkategorisasikan bahaya, menentukan langkah pengendalian, serta prioritas bahaya untuk dikendalikan

Setelah semua bahaya dapat teridentifikasi, maka perusahaan bisa melakukan berbagai tindakan lebih praktis.

Mulai dari mengevaluasi level bahaya, menerapkan sistem pengendalian potensi bahaya, hingga memprioritaskan mana yang perlu perlakuan lebih dan mana yang bisa dinomor duakan.

Metode untuk mengendalikan risiko karyawan di perusahaan

Untuk melakukan pengenalan, analisis, sekaligus pengendalian risiko karyawan di tempat kerja, terdapat beberapa tools yang kerapa perusahaan gunakan.

Ada dua buah tools utama yang sering perusahaan gunakan. Tools ini utamanya sering dipakai di perusahaan dengan bidang kerja yang punya risiko bahaya tinggi.

Dua buah tools yang kami maksud adalah:

  • Task risk assessment
  • Job safety analysis

Kita akan coba membahasnya satu per satu.

Task Risk Assessment (TRA)

Task risk assessment adalah salah satu metode populer yang bisa perusahaan gunakan untuk mengidentifikasi bahaya. Selanjutnya, perusahaan bisa melakukan langkah pencegahan dan pengendalian munculnya risiko dalam pekerjaan.

Metode ini memerlukan bebera langkah aktivitas untuk implentasinya. Antara lain:

  • Memilih salah satu pekerjaan yang akan dianalisis potensi bahayanya dan kemudian diidentifikasi.
  • Ketika satu pekerjaan sudah terpilih, maka pecahlah pekerjaan itu ke dalam beberapa langkah aktivitas.
  • Melakukan identifikasi potensi bahaya pada setiap langkah yang sudah terurai dalam berbagai aktivitas.
  • Menentukan langkah pengamanan untuk mengendalikan bahaya yang bisa muncul.
  • Melakukan komunikasi kepada semua pihak di perusahaan yang memiliki kepentingan dengan pekerjaan tersebut.
Baca Juga:  DISC Personality Test : Pengertian, Manfaat, Tipe Kepribadian & Contoh

Job safety analysis

Job safety analysis ini kadang juga orag sebut sebagai job task analysis. Sama sebagaimana TRA, JSA juga punya fungsi untuk mengendalikan berbagai potensi risiko pada karyawan.

Dengan demikian, karyawan jadi lebih aman, kecelakaan bisa terkendali, bahkan bisa juga membuat produktivitas jadi meningkat.

Langkah untuk melakukan JSA bisa perusahaan lakukan dengan 5 langkah utama. Antara lain:

  • Memilih terlebih dahulu jenis pekerjaan yang akan perusahaan analisis.
  • Selanjutnya, rincilah langkah langkah pekerjaan tersebut dari awal hingga akhir. Rinci secara komprehensif dan tak ada yang terlewat.
  • Lakukan identifikasi bahaya dari berbagai rincian pekerjaan di atas. Poin ini juga harus dilakukan dengan lengkap.
  • Lakukan tindakan pengendalian bahaya dengan mengacu pada hirarki pengendalian bahaya, yakni eliminasi, substitusi, rekayasa teknik, pengendalian administratif, dan alat pelindung diri.
  • Terakhir, dokumentasikan berbagai temuan dan hasil analisis, lalu komunikasikan analisis bahaya kepada karyawan di perusahaan.

Ketika perusahaan menggunakan metode yang baik untuk menghindarkan karyawannya dari berbagai risiko, maka pasti karyawan akan merasa nyaman. Citra perusahaan juga bisa terjaga dengan baik karena minim insiden. 

Hasil akhirnya, perusahaan bisa berumur panjang dan tetap berada pada jalur kesuksesan.

Penutup

Penjelasan tentang employment risk ini pada dasarnya lebih penting untuk dipahami oleh manajemen perusahaan yang berkepentingan mengurus persoalan ini. 

Hanya saja, bagi karyawan biasa, pemahaman mengenai employment risk adalah sangat bermanfaat juga. Setidaknya menjadi wawasan untuk menilai sejauh mana perusahaan tempatnya bekerja menerapkan employment risk.

Share:

Tinggalkan komentar