Apa Persamaan STEM dan HOTS? Bagaimana Contoh Penerapannya?

Apa persamaan STEM dan HOTS? Pertanyaan ini mungkin menjadi pertanyaan menarik bagi banyak guru di Indonesia.

Kedua konsep di atas, yakni STEM dan HOTS, memang sedang menjadi konsep yang banyak guru gandrungi. Bukan hanya untuk diterapkan dalam pembelajaran masing masing, namun juga disosialisasikan di berbagai seminar.

Apakah ada pembaca Tugas Karyawan yang bekerja sebagai guru juga? Jika ada, lanjutkan membaca untuk mendapatkan jawaban mengenai apa itu STEM, HOTS, dan persamaannya? Kami juga akan coba sajikan sedikit contoh aplikasinya dalam pembelajaran PAI.

Pengertian STEM

Sebelum menjawab persamaannya, kita perlu tahu definisi untuk masing masing topik yang akan kita bahas. Baik itu STEM maupun HOTS.

STEM adalah singkatan dari science, technology, engineering, dan mathematics. Kedudukannya adalah pendekatan pembelajaran yang memperhatikan keempat aspek yang menjadi singkatannya.

  • Science berarti bahwa STEM menggunakan konsep atau hukum yang berlaku di alam raya ini.
  • Technology maksudnya STEM memakai keterampilan yang masyarakat gunakan dalam mengatur kehidupannya. Baik itu mengatur organisasi, pengetahuan, desain, ataupun alat tertentu.
  • Engineering yakni STEM menggunakan pengetahuan untuk melakukan desain suatu prosedur dalam menyelesaikan masalah.
  • Mathematics dalam STEM maksudnya melatih peserta didik terlatih dalam melakukan penghitungan.

Menurut banyak pakar pendidikan, pendekatan STEM dengan mengadopsi keempat poin yang ada di dalamnya sangat relevan dengan kebutuhan manusia abad 21. Khususnya yang kini sedang menghadapi industri 4.0.

Dalam praktik pembelajaran, STEM mendorong peserta didik mengembangkan gagasannya melalui langkah langkah tertentu dengan cara memanipulasi pengetahuan yang dapat menghasilkan pengetahuan baru. 

Di mana dalam era digital ini, ada empat skill besar yang perlu generasi penerus miliki :

  1. Critical Thinking (berpikir kritis)
  2. Creativity (kreativitas)
  3. Communication (komunikasi)
  4. Collaboration (kolaborasi)

Pengertian HOTS

Secara konsep, HOTS digagas sebagai salah satu bentuk keterampilan berpikir.

Baca Juga:  Contoh Surat Pengunduran Diri Karyawan yang Baik dan Sopan

HOTS adalah singkatan dari High Order Thinking Skills atau dalam bahasa Indonesia artinya keterampilan berpikir tingkat tinggi. Istilah HOTS pertama kali keluar dari buku yang berjudul Taxonomy of Educational Objectives : The Classification of Educational Goals.

Penulisnya adalah Benjamin S. Bloom. Dalam buku tersebut ia menelurkan konsep taksonomi Bloom. Berupa kategorisasi tingkatan berpikir pada manusia dari yang paling rendah hingga paling tinggi. 

Nah, ini bentuk taksonominya:

  • Rendah : remembering (mengingat), understanding (memahami), applying (menerapkan)
  • Tinggi : analyzing (menganalisis), evaluating (mengevaluasi), creating (menciptakan)

Jadi, menurut Bloom, ada istilah HOTS dan ada juga istilah LOTS (Low Order Thinking Style). Blooom membagi masing masing kategori ini.

Apabila kita membahas HOTS, maka yang akan kita bicarakan adalah keterampilan berpikir yang bertitik tekan kepada kemampuan menganalisis, mengevaluasi, dan menciptakan.

Dalam pembelajaran yang mendorong HOTS, siswa tidak lagi berkutat dengan tugas tugas yang hanya menekankan daya ingat, pemahaman dan penerapan. Hal semacam itu dianggap terlalu tradisional dan kurang sesuai dengan kebutuhan Sumber Daya Manusia di era digital.

Makanya, konsep HOTS juga kini banyak orang menyosialisasikan. Terutama mereka yang peduli dengan dunia pendidikan.

Apa persamaan STEM dan HOTS?

Setelah mendapatkan pengertian dari STEM dan HOTS dengan jelas, tentu sangat mudah bagi kita untuk menarik persamaan dari kedua konsep ini. Persamaannya antara lain:

  • STEM dan HOTS sama sama konsep di bidang pendidikan, khususnya pembelajaran.
  • Keduanya sama sama mendorong peserta didik untuk lebih kreatif (menghasilkan hal hal baru)
  • Keduanya sama sama konsep yang relevan dengan kebutuhan SDM di era digital (Baik revolusi industri 4.0 maupun 5.0  yang katanya sedang dalam proses)

Dengan berbagai persamaan yang ada di antara keduanya, maka dalam proses pembelajaran, guru guru bisa mengintegrasikan STEM dan HOTS pada satu waktu.

Apalagi kalau kamu pelajari, STEM dan HOTS juga sangat berkaitan. Pembelajaran yang menggunakan pendekatan STEM misalnya, itu pasti didorong untuk meningkatkan kemampuan HOTS peserta didik. Seluruh peserta yang ikut pembelajaran terdorong untuk melakukan analisis, evaluasi, dan mengkreasikan sesuatu.

Baca Juga:  Kebijakan UMR Jakarta 2021 (UMP) di Masa Pandemi Lengkap dan Terbaru

Maka dari itu, hampir selalu dipastikan, bahwa ketika seorang guru mengajar dengan pendekatan STEM, maka secara otomatis juga sedang menerapkan metode HOTS dalam pembelajaran. 

Begitu juga sebaliknya, saat seorang guru mengajar untuk meningkatkan HOTS, umumnya pendekatan yang guru gunakan adalah STEM.

Penerapan STEM dan HOTS dalam model pembelajaran

Titik tekan dari penerapan kedua konsep ini adalah pembentukan perilaku saintifik, sosial, serta pengembangan rasa ingin tahu peserta didik. Tidak semua model pembelajaran cocok untuk mengaplikasikan kedua konsep ini.

Sebagaimana penjelasan dari Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) No.22 Tahun 2016 mengenai standar proses, ada 3 model yang cocok. Antara lain:

  1. Melalui model penyingkapan atau penemuan (discovery/ inquiry learning). 
  2. Model pembelajaran berbasis masalah atau problem based learning (PBL)
  3. Model pembelajaran berbasis proyek atau project based learning (PJBL)

Meskipun demikian, tak menutup kemungkinan juga bagi guru untuk mengembangkan pembelajaran dengan model model lainnya. Bagaimanapun, guru yang paling tahu kondisi siswanya di lapangan dan paling paham apa yang cocok serta relevan bagi anak didiknya.

Penerapan STEM dan HOTS dalam pembelajaran PAI Abad 21

Untuk semakin memperjelas, kami akan coba membagikan bagaimana implementasi penerapan HOTS dalam pembelajaran PAI abad 21. Meskipun dalam contoh ini hanya memberikan contoh pada mapel PAI, tapi mudah mudahan bisa memberikan inspirasi bagi guru guru mapel lainnya.

Kita akan coba simulasikan dalam salah satu K.D. yang ada dalam mapel PAI kelas X yakni Kompetensi Dasar 3.9 dan 4.9 :

3.9. Menganalisis hikmah ibadah zakat bagi individu dan masyarakat

4.9  Menyimulasikan ibadah zakat

Contoh yang kami sajikan ini menggunakan model pembelajaran berbasis proyek atau project based learning. Hasil akhirnya, siswa bisa membuat proyek atau karya baru. Jadi, ada proses kreatif di dalamnya.

Proyek yang kami maksud disini adalah membuat video animasi ibadah zakat.

Berikut tahapan pembelajaran HOTS untuk kompetensi dasar mapel PAI di atas:

Tahap pertama : penentuan masalah atau pertanyaan mendasar

Pada tahap ini, guru bertanya kepada siswa dengan pertanyaan yang sesuai dengan KD yang ingin guru sasar:

  • Bagaimana cara merencanakan dan melaksanakan proyek video animasi ibadah zakat?
Baca Juga:  10 Prospek Kerja Teknik Lingkungan Dengan Gaji Oke

Guru kemudian menjelaskan berbagai hal seputar perencanaan dan pelaksanaan ini meliputi:

  • Waktu pengerjaan proyek
  • Jenis dan kriteria penilaian proyek
  • Cara pengerjaan

Tahap kedua : membuat jadwal kegiatan

Guru memandu peserta didik untuk membuat berbagai jadwal kegiatan untuk terlaksananya proyek. Meliputi jadwal:

  • Perencanaan proyek
  • Pelaksanaan proyek
  • Penyempurnaan produk yang sudah dibuat
  • Penyepakatan produk hasil proyek

Tahap ketiga : monitoring

Ketika siswa memulai proses proyek membuat video animasi zakat, guru juga harus melakukan monitoring atau pemantauan. Mulai dari proses perencanaan hingga pelaksanaan.

Bantu dan pandu siswa jika dalam prosesnya siswa mengalami kebingungan. 

Tahap keempat : menguji hasil

Setelah proyek video animasi zakat sudah selesai siswa buat, maka guru mesti mengapresiasi proyek yang sudah siswa buat. Proses ini dapat guru lakukan dengan memfasilitasi siswa melakukan hal sebagai berikut:

  • Menyajikan naskah atau video hasil proyek
  • Mempresentasikan video animasi yang sudah mereka buat
  • Mendemonstrasikan hasilnya

Tahap kelima : evaluasi

Terakhir, tentu saja perlu adanya evaluasi.Tahap ini mencakup:

  • Evaluasi perencanaan
  • Evaluasi pelaksanaan

Proses di atas secara tidak langsung akan mendorong siswa menggunakan keterampilan berpikir HOTS. 

Mengapa dapat kami katakan demikian? Ada beberapa dasarnya. Antara lain siswa melakukan proses sebagai berikut:

  1. Menganalisis konsep zakat dalam bentuk merancang konsep video
  2. Menciptakan video animasi 
  3. Mengevaluasi apa yang sudah mereka buat

Tentu saja tahapan ini sangat berbeda dengan lazimnya pembelajaran PAI tradisional yang biasanya hanya menggunakan metode ceramah. 

Penutup

Bagaimanapun, HOTS dan STEM hanyalah konsep buatan manusia. Meskipun pada dasarnya memang bagus, pada akhirnya guru adalah orang yang paling dekat dengan siswanya. 

Jadi, guru bisa berkreasi sendiri di lapangan. Baik dalam bentuk mengembangkan konsep HOTS dan STEM atau bahkan menciptakan caranya sendiri yang lebih bagus Jika peserta didiknya harus kreatif, gurunya mesti lebih wajib lagi dong.

Jadi, apa persamaan STEM dan HOTS? Mudah mudah artikel ini sudah menjawabnya. Selamat bekerja mencerdaskan generasi penerus!

Rate this post
Share:

Tinggalkan komentar