Apa Itu Freelance? Pengertian, Jenis, Kelebihan, Gaji, Skill

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email

Sebelum terjun menjadi seorang freelancer (pekerja lepas), kamu memang perlu tahu dulu apa itu freelance. Bentuk pekerjaan yang ditekuni oleh seorang freelancer.

Mulai dari pengertiannya, jenis, kelebihan, kekurangan, gaji, cara kerja, hingga syarat untuk bisa bertahan dan sukses dalam bidang ini. Kamu bisa membaca artikel ini sampai habis untuk mengetahui seluk beluk dunia freelance.

Selamat membaca!

Apa itu freelance?

Secara sederhana, freelance adalah tipe pekerjaan yang tidak terikat dengan tempat dan waktu.

Definisi ini membedakan freelance dengan pekerja pada umumnya. Dimana dalam kelazimannya, pekerjaan itu mengharuskan seseorang datang ke satu tempat tertentu dengan waktu terjadwal. Tentu saja dengan berbagai aturan mengikat.

Orang yang bekerja dengan cara ini disebut sebagai freelancer atau pekerja lepas.

Pekerjaan ini berkembang beriringan dengan kemajuan teknologi. Kemudahan interaksi jarak jauh antar orang membuat komunikasi pekerjaan bisa dilakukan tanpa terikat waktu dan tempat.

Maka dari itu, mayoritas pekerjaan freelance ini umumnya didapatkan dan dikerjakan dengan melibatkan media digital.

Apakah freelance itu pengangguran?

Freelance adalah pengangguran? Ada orang yang menunding demikian. Benarkah?

Jawabannya bisa iya dan bisa tidak. Tergantung pengertian pengangguran yang kamu gunakan.

Jika kamu dulu di sekolah ada di jurusan IPS dan belajar ekonomi, memang pengangguran itu ada jenis-jenisnya berdasarkan sifatnya. Ada penangguran terbuka, setengah menganggur, dan pengangguran terselubung.

Pengangguran terbuka adalah orang yang benar-benar nggak punya kerja.

Setengah menganggur adalah orang dengan jumlah jam kerja di bawah 35 jam per minggu.

Sedangkan pengangguran terselubung merupakan orang yang bisa bekerja lebih optimal dari sisi waktu dan tenaga namun tak mengoptimalkan kemampuannya.

Memang bila merujuk pada penjelasan di atas, sebagian freelancer mungkin saja masuk dalam kategori setengah menganggur atau pengangguran terselebung. Sebagian dari mereka hanya menggunakan sedikit waktu dan tenaganya untuk bekerja sehingga masuk dalam standar pengangguran.

Namun apalah arti status semacam itu. Faktanya, tak sedikit freelancer dengan 2 kriteria tersebut penghasilannya malah lebih tinggi dari pekerja tetap.

Seorang penulis lepas bisa membuat tulisan 3000 kata dalam waktu 4 jam untuk mendapatkan uang lebih dari 100 ribu. Sementara masih ada pekerja reguler bekerja dari pagi sampai petang penghasilannya kurang dari 100 ribu.

Itu ilustrasinya. Dengan demikian, jika kamu serius ingin menjadi freelancer, tak perlu pedulikan status-status yang diberikan semacam itu.

Bukankah yang penting pekerjannya berkah dan cuannya melimpah?

Jenis freelancer

Mckinsey Global Insitute menyebutkan bahwa tidak semua pekerja lepas menggeluti pekerjaannya dengan bahagia. Bahkan, bagi mereka itu bukan pekerjaan yang mereka harapkan.

Memang faktanya, jika dikategorisasikan, orang yang memilih untuk menjadi seorang freelancer ada empat jenis.

1. Free agents

Yakni pekerja lepas atas dasar kesadaran. Orang yang memiliih menjadi freelancer atas kemauannya sendiri.

Maka dari itu ia juga menggantungkan hidupnya untuk mendapatkan pekerjaan-pekerjaan freelance sampai tua. Ini menjadi pekerjaan utamanya.

Mereka tidak menyesali hidupnya dan tidak pula terpikir untuk beralih menjadi pekerja tetap untuk terikat perusahaan secara reguler.

2. Casual Earners

Meski sama-sama memilih bekerja lepas atas kesadaran, jenis yang kedua menempatkan pekerjaan freelance sebagai kerja tambahan.

Mereka memiliki pekerjaan utama yang tetap dan terikat. Namun karena menginginkan tambahan penghasilan, mereka terjun menjadi freelancer.

Dengan kata lain, mereka menjadikannya sebagai sampingan saja.

3. The reluctants

Tipe ini jauh dalam lubuk hati ingin menjadi seorang pekerja tetap. Namun karena belum mendapatkannya, mereka sementara menjadi seorang full freelancer.

Mereka menggantungkan hidup dalam proyek-proyek lepas dan mendapatkan penghasilan yang sebenarnya cukup. Bahkan, bisa jadi besar.

Hanya saja, jika ada pilihan menjadi pekerja tetap, mereka akan pindah.

4. The financially strapped

Tipe terakhir ini adalah tipe yang benar-benar terpaksa menjadi freelancer.

Mereka sebenarnya tak mau menjalani pekerjaan  ini. Namun karena kebetulan ada pekerjaan-pekerjaan lepas untuk bisa dikerjakan, mereka melakoninya saja.

Kelebihan dan kekurangan freelance

Tak ada pekerjaan yang benar-benar tanpa resiko. Dalam artian semuanya serba mudah dan menyenangkan. Pasti ada kelebihan dan kekurangannnya.

Namun sebagai manusia, tentu kamu bisa menimbang-nimbang, apakah pekerjaan itu cocok untukmu?

Baca Juga:  Copywriter : Pengertian, Sejarah, Tugas, Skill, Prospek & Gaji

Termasuk dalam jenis pekerjaan yang sedang kita bahas ini. Terdapat kelebihan kerja freelance serta kekurangannya.

Kelebihan kerja freelance

1. Waktu lebih fleksibel

Saya tak berani mengatakan bahwa seorang freelancer waktunya lebih luang. Mungkin lebih tepat untuk disebut fleksibel.

Dengan kata lain, kamu punya kendali untuk menentukan kapan mau kerja dan kapan mau libur dulu. Ketika kamu ingin kerja, kamu bisa aktif cari proyek-proyek yang ada. Namun ketika sedang jenuh, kamu bebas memutuskan untuk berhenti dulu mencari dan menggarap proyek.

Jelas ini berbeda dengan pekerjaan tetap. Kamu punya jam kerja baku setiap hari. Liburmu juga sudah ditentukan dan dibatasi.

Mau coba melanggar? Siap-siap dapat sanksi.

2. Tempat kerja fleksibel

Banyak pekerja tetap yang penghasilannya habis karena membiayai ongkos perjalanan. Mereka juga menguras banyak waktu untuk mengantri tiket, berdesak-desakan di kereta, dan hal lain demi bisa sampai di kantor.

Bagi para freelancer, hal semacam itu mungkin tak akan ditemui. Sebagian besar tawaran kerja freelance sifatnya remote job. Kamu bisa bekerja jarak jauh tanpa harus berjumpa bos atau rekan kerja di kantor.

Kordinasi-kordinasi bisa dilakukan lewat aplikasi video meeting, instruksi bisa disampaikan lewat aplikasi chating, dan pastinya honor tinggal ditunggu di rekening.

3. Lebih dekat dengan keluarga

Cerita-cerita hubungan LDR (Long Distance Relationship) belum pernah saya temukan dijalani oleh freelancer. Kalau pekerjaan lain saya sering mendengarkannya.

Orang dengan pekerjaan lepas umumnya memang lebih dekat hubungannya dengan keluarga. Karena mereka bisa menentukan tempat kerja secara bebas, mereka bisa memilih untuk berkumpul bersama keluarga dalam lebih banyak intensitas.

Selain itu, waktu kerja flesibel juga membuat mereka lebih mudah mencocokan waktu quality time dengan keluarga.

4. Sangat prospektif di masa depan

Pada awal kemunculannya, pekerjaan dengan konsep freelance ini dianggap sebelah mata. Orang yang memilihnya dilabeli kalangan yang terpinggirkan dari persaingan dunia kerja formal.

Namun seiring waktu, fakta membuktikan bahwa pekerjaan ini semakin menjanjikan. Apalagi setelah terjadi digitalisasi dalam berbagai lini. Mau tidak mau, harus diakui bahwa berbagai karya digital yang kamu temui saat membuka ponsel terdiri dari sebagian karya mereka.

Sebagaimana dikutip dari Tirto, sebuah prediksi pernah diungkapkan oleh Freelancers Union dan Upworks. Pada tahun 2027 nanti, diprediksi bahwa freelancer akan menjadi profesi mayoritas di Amerika Serikat. Generasi milienial umumnya menjadikan jenis pekerjaan ini sebagai pilihan.

Bagaimana dengan Indonesia?

Tampaknya sama saja. Mengingat digitalisasi sifatnya mendunia, apa yang terjadi di Amerika sangat mungkin jadi cerminan di belahan dunia lainnya.

Kekurangan kerja freelance

1. Minim sosialisasi

Sebagai besar proyek yang diberikan dalam pekerjaan ini berhubungan dengan dunia digital. Dengan demikian, pelakunya akan dituntut selalu stand by di depan komputer atau layar ponsel saat bekerja.

Walhasil, freelancer pasti jarang bertemu dengan orang-orang. Berbeda dengan pekerjaan kantoran yang bertemu rekan kantornya, guru yang bertemu siswanya, atau sales yang bertemu pelangganya.

Kalaupun ada kerja tim, umumnya dilakukan dengan kordinasi seadanya. Praktis pelakunya berpotensi menjadi minim sosialisasi langsung.

Tapi hal ini sebenarnya tergantung orangnya juga. Kamu bisa saja meminimalisirnya dengan caramu sendiri.  Mencoba memaksakan diri untuk ikut gotong royong warga, ikut pengajian mingguan di mesjid, dan berbagai kegiatan sosial adalah solusinya.

2. Rentan Penipuan

Sebenarnya, di dunia nyata juga penipuan itu potensial terjadi. Namun di dunia digital, ruang untuk melakukan penipuan menjadi lebih luas. Termasuk, dalam dunia kerja freelance.

Mulai dari tipuan perjanjian kerja tak sesuai kesepakatan, pembayaran berbeda dengan apa yang dijanjikan, hingga pekerjaan tak mendapatkan bayaran.

Namun perlahan potensi-potensi ini terkikis seiring banyaknya bermunculan situs pihak ketiga yang mempertemuakan freelancer dengan pemberi kerja. Situs semacam ini bisa memberi lebih banyak jaminan agar terhindar dari penipuan.

Ketika ada konflik antara kedua belah pihak, pihak ketiga punya sistem untuk bisa masuk melakukan mediasi. Mereka juga biasanya punya sistem pembayaran tertentu sehingga menutup ruang freelancer tidak mendapat bayaran atas pekerjaannya.

3. Penghasilan tidak pasti

Memang, sudah banyak contoh freelancer sukses dengan penghasilan wow. Coba saja kamu masuk grup facebook ‘Kami Kerja Remote’, disana banyak freelancer Indonesia berkumpul dan berbagi.

Salah satunya, bagi-bagi info penghasilan yang didapatkan. Terutama pekerjaan mereka dari situs freelancer internasional seperti upwork.

Banyak diantara mereka yang penghasilan sebulannya bisa mencapai ribuan dollar. Dari seribu, lima ribu, hingga sepuluh ribu. Jika dikonversi ya kira-kira minimal 2 digit (belasan juta rupiah).

Tapi kita harus sadar juga, banyak juga freelancer teseok-seok. Untuk mendapatkan puluhan ribu saja begitu sulit. Mereka kurang mendapatkan banyak kontrak sehingga penghasilannya benar-benar pas-pasan.

Baca Juga:  Design Thinking : Pengertian, Sejarah, Fungsi, Elemen, Tahapan, Contoh

Kehidupannya jelas tak jauh lebih baik dari pegawai reguler atau buruh pabrik yang umumnya sudah dapat kepastian gaji minimal UMR.

Tapi ini bisa diminimalisir jika kamu sedari awal terjun dalam bidang ini serius dan memperhatikan syarat-syarat suksesnya. Mengingat kompetisi kerja di ruang freelance ini lebih sehat dan jauh dari gangguan kolusi serta nepotisme. Peran skill dan attitude sangat kuat.

Berapa gaji seorang freelancer?

Pertanyaan berapa gaji seorang freelance ini banyak ditanyakan. Saya jujur saja bingung menjawabnya.

Namun sepanjang pengetahuan saya, jawabannya sangat variatif.

Jika mau diambil standar gaji terkecil, mungkin kamu akan merasa miris. Sebaliknya, jika mau diambil standar gaji tinggi, mungkin kamu akan langsung halu.

Faktanya ada freelancer yang sebulan penghasilannya tak sampai 1 juta rupiah, tapi ada juga yang bisa sampai puluhan hingga ratusan juta rupiah.

Saya disini hanya akan memberikan beberapa variabel yang bisa menentukan besar kecilnya penghasilan seorang freelance.

1. Jenis pekerjaan

Setiap jenis pekerjaan yang diambil berbeda potensi penghasilannya.

Faktanya, ada banyak sekali jenis bidang kerja yang umumnya bisa digarap oleh freelancer. Seperti bidang IT, desain grafis, marketing, kepenulisan, dan lainnya.

Masing-masing bidang juga ada turunannya lagi. Misalnya dalam dunia kepenulisan ada jenis kerja SEO writer, copy writer, legal writer, fiction writer, dan masih banyak lagi.

Demikian halnya dalam bidang desain grafis. Ada desainer logo, desainer content sosial media, hingga desainer website.

Berapa penghasilannya?

Dalam level pemula misalnya, tenaga lepas dengan skill IT pemula umumnya penghasilannya lebih besar dari penulis pemula. Begitu juga berbeda perbandingannya dengan pekerjaan di bidang desain grafis, fotografi/foto editor, dan lainnya.

Kamu bisa cek sendiri di situs-situs freelancer. Satu yang pasti, untuk level pemula jangan dulu berharap muluk-muluk.

2. Pemberi proyek/klien

Selain jenis pekerjaan, tinggi rendah penghasilan juga bergantung klien atau pemberi proyek.

Biasanya jika klien kamu bule, tawaran bayaran yang diberikan umumnya lebih tinggi dari klien lokal.

Kamu bisa bandingkan sendiri tawaran proyek dari situs-situs freelancer lintas negara dengan situs lokal. Misalnya antara di upwork dengan projects.co.id atau sribulancer.

Maka dari itu, kepemilikan skill bahasa Inggris juga bisa memberikan nilai tambah bagi siapa saja yang memutuskan untuk terjun dalam tipe pekerjaan ini. Bahasa asing selain Inggris juga potensial jika kamu pelajari.

Bukan hanya tempat asal, mungkin akan berbeda juga nilai proyek dari klien individu dengan klien perusahaan. 

Berikut ini contoh penghasilan jika kamu mencari klien bule di upwork. Dalam satu tahun, penghasilannya bisa mencapai 27 ribu dollar:

Jika dikonversi ke mata uang Indonesia, kira-kira 378 juta rupiah (kurs 14 ribu rupiah per 1 dollar). Dengan kata lain, dalam satu bulan bisa mendapatkan 31,5 juta. Lumayan kan, kalau kamu beliin bakwan bisa dapat sekitar 100 ribu biji.

Untuk klien lokal jelas jauh. Meski ada juga yang nilainya jutaan dengan target pengerjaan satu bulan.

3. Skill freelancer

Kemampuan yang dimiliki oleh freelancer juga berpotensi memberikan nilai tawar untuk memiliki bayaran lebih tinggi. Perusahaan tak akan ragu membayar tinggi untuk hasil kerja memuaskan.

Prinsipnya, semakin tinggi skill-mu, semakin tinggi juga potensi besar penghasilanmu.

Hanya saja, skill juga perlu dibuktikan dengan portofolio yang dimiliki. Calon klien perlu tahu langsung seberapa tinggi kualitasmu dengan menyaksikan langsung hasil kerja atau karyamu sebelumnya.

Maka dari, freelancer perlu membuat portofolio yang terus diperbaharui dari waktu ke waktu. Ada banyak situs portofolio yang bisa kamu manfaatkan. Jika kamu punya kemampuan, kamu juga bisa membuat blog atau situs sendiri untuk memuat seluruh hasil kerjamu.

Meski demikian, di situs-situs freelancer ada juga fitur untuk memajang portofolio. Hanya pastinya lebih terbatas.

4. Rekam jejak klien

Selain hasil karya, jejak klien yang pernah bermitra denganmu juga bisa menjadi variabel lain.

Apabila kamu bisa mendapatkan klien perusahaan ternama, kamu juga bisa informasikan pada klien. Bisa juga dicantumkan dalam portofolio bersamaan dengan karya yang sudah dibuat.

Lebih bagus lagi jika kamu bisa mendapatkan testimoni-testimoni yang positif. Kamu penting mempublikasikannya dalam portofolio agar nilai tawarmu semakin tinggi di mata klien.

Maka dari itu, jangan luput untuk minta testimoni dengan cara sopan. Tak ketinggalan jika mau mempublikasikan harus seizin klien dulu.

Nilai tawarmu di klien selanjutnya pasti menjadi lebih tinggi.

5. Keaktifan dan produktifitas

Berbeda dengan pekerjaan reguler yang jobnya selalu ada dari waktu ke waktu, freelancer hanya bekerja ketika ia mendapatkan klien.

Baca Juga:  Problem Solving Adalah Skill Penting, Ini Penjelasan Lengkapnya!

Maka dari itu, seberapa banyak klien dan pekerjaan yang didapat, akan mempengaruhi juga seberapa banyak penghasilanmu.

Meskipun nilai per-proyekmu kecil-kecil, tapi jika kamu aktif mencari klien dan produktif mengerjakan job, penghasilanmu juga bisa besar.

Keaktifan dan produktifitas ini mau tak mau diperlukan jika level kamu masih pemula.

6. Rezeki

Faktor terakhir dan tak boleh luput dari pemahamanmu adalah faktor rezeki. Harus diingat bahwa bagaimanapun juga rezeki itu sangat dipengaruhi pemberian Sang Maha Kuasa.

Seberapa banyak variabel yang sudah kamu optimalkan, jika memang Dia belum berkehendak, maka hasilnya harus kamu terima.

Meskipun demikian, mengoptimalkan usaha adalah wajib.

Apa saja kemampuan yang harus dimiliki freelancer?

Selain skill-skill teknis berhubungan dengan bidang pekerjaan, ada beberapa kemampuan lain yang perlu dimiliki oleh seorang freelancer. Jika kemampuan-kemampuan ini terakumulasi, kamu berpotensi menjadi freelancer sukses.

Berikut beberapa di antaranya:

1. Manajemen waktu

Seorang pekerja lepas bukan berarti manusia yang tak punya masalah dengan waktu.

Perbedaannya, jika pekerja reguler umumnya memiliki waktu diatur oleh perusahaan kerjanya, maka freelancer punya keleluasaan dalam mengatur waktunya sendiri. Ia bisa menentukan sendiri kapan waktunya bekerja dan kapan bersantai.

Maka dari itu, diperlukan kemampuan untuk mengelola waktu yang dimiliki. Jangan sampai terlalu banyak bersantai, jangan pula terlampau gila dalam bekerja.

Sebagai manusia, kita memiliki kebutuhan beragam. Masing-masing perlu alokasi waktu untuk dipenuhi.

Jika kamu tak pandai-pandai mengatur waktu, pasti kamu akan keteteran. Apalagi jika kamu menjadikan freelance sebagai pekerjaan tambahan.

2. Profesionalitas

Sebagai seorang freelancer, kamu perlu menjaga kepercayaan klien. Kepuasan klien adalah hal yang benar-benar harus diperhatikan.

Kontrak berikut isinya yang sudah disepakati perlu dijalankan sebagaimana mestinya. Mulai dari konten tugas kerjanya, waktu penyelesaiannya, dan hal-hal lain yang sudah disepakati.

Kamu boleh saja berharap untuk bisa mendapatkan hak meskipun pekerjaan belum selesai. Namun pada saat bersamaan kamu harus mengupayakan setiap kewajiban dilaksanakan dengan baik.

Jika ada permasalahan dalam perjalanannya, kamu tak boleh lari begitu saja. Berusahalah sebisa mungkin agar selesai sesuai dengan kontrak.

Andaikata benar-benar mentok, kamu baru komunikasikan dengan baik masalahnya.

3. Pembelajar

Perkembangan bidang-bidang pekerjaan, saat ini terjadi dengan begitu cepat. Apapun bidang yang ingin kamu geluti dalam dunia freelance.

Setiap waktu bisa bermunculan teknik baru, tools baru, aplikasi baru, dan berbagai hal baru lainnya.

Hal ini juga pasti sedikit banyak berimbas pada keinginan klien. Standar dan ekspektasi mereka bisa berubah-ubah, bahkan semakin tinggi.

Maka dari itu, kamu perlu mengamati hal-hal baru sekaligus belajar tentangnya. Berlarilah untuk menyesuaikan perkembangan.

Tanpa mental pembelajar, lambat-laun klienmu bisa-bisa habis. Mereka yang dulu membutuhkanmu punya standar lain yang tak bisa kamu penuhi.

Kamu hanya tinggal tunggu karirmu habis di dunia freelance.

4. Problem solver

Kamu yang memilih menjadi freelancer, umumnya akan bekerja sendiri. Tanpa atasan dan tanpa tim lain yang bisa diajak berbincang di satu ruangan. Berbeda dengan bekerja reguler.

Maka dari itu, ketika ada permasalahan, biasanya kamu juga perlu menyelesaikannya sendiri.  Meski kamu bisa saja menghubungi klien, tapi pilihanmu tak mengganggunya tentu lebih bagus.

Oleh karena itu, kamu juga perlu menguasai skill problem solving. Tentang bagaimana caranya menemukan penyebab dan solusi ketika terjadi masalah.

Kemampuan ini perlu diasah dengan terlebih dahulu mengubah cara pandangmu terhadap masalah. Tanamkan dalam hati bahwa masalah itu untuk dihadapi, bukan untuk ditinggal lari.

5. Komunikasi

Komunikasi ini meliputi kemampuan menerima dan menyampaikan pesan. Keduanya sama pentingnya.

Ketika kamu mendapatkan klien, mereka pasti memberikan arahan dan menyampaikan keinginannya.

Sebagai freelancer kamu harus menangkapnnya dengan baik. Dengan demikian, pekerjaan akan sesuai dengan harapan klien.

Begitu juga dalam menyampaikan pesan. Kamu butuh kemampuan komunikasi aktif untuk menunjukan profesionalitas dan kelayakanmu. Selain itu, ini juga membantumu untuk dapat berkonsultasi dengan baik manakala dalam penyelesaian kerja ada masalah.

Jika kamu bekerja di perusahaan reguler, urusan-urusan semacam ini mungkin bisa kamu serahkan pada divisi humas, public relation, atau pemasaran. Namun saat posisimu adalah freelancer, tugas-tugas pekerjaan tersebut kamu yang pegang sendiri.

Untuk meningkatkan kualitas, kamu juga bisa menambah kemampuan komunikasi berbahasa asing. Jangkuan klienmu bisa semakin luas jika kamu memilikinya.

Baca juga:

Seluruh pembahasan mengenai apa itu freelance dan berbagai poin-poin lainnya ini pastinya tak cukup. Kamu perlu terus belajar dan tentu saja memulai langkah menjadi freelancer sukses.

Farhan

Farhan

Halo, saya adalah seoarang guru, suka berbagi dan hobi menulis. Anda bisa memberikan pertanyaan, kritikan dan saran dikolom komentar terhadap apa yang saya sajikan di website ini.

Tinggalkan komentar

18 − sixteen =