Pengertian, Prinsip, dan 5 Contoh Komunikasi Bisnis Islam

Contoh komunikasi bisnis Islam adalah bukti bahwa Islam merupakan agama dengan ajaran sempurna. Semua hal sudah Allah SWT atur tata caranya dalam kehidupan. Termasuk, masalah komunikasi bisnis.

Lantas, apa yang dimaksud dengan komunikasi bisnis dalam Islam? Bagaimana prinsip dan etikanya? Lalu bagaimana juga contohnya dalam kehidupan nyata?

Semuanya akan Tugas Karyawan jawab dalam artikel ini. 

Semoga bermanfaat!

Pengertian Komunikasi Bisnis Islam

Komunikasi merupakan kegiatan bertukar pesan antar dua atau lebih pihak. Sedangkan komunikasi bisnis merupakan aktivitas bertukar pesan yang punya tujuan dan dalam lingkup kegiatan bisnis. 

Sebelumnya, Tugas Karyawan sudah bahas mengenai hal ini di artikel tentang Komunikasi Bisnis secara umum.

Adapun komunikasi bisnis Islam merupakan kegiatan bertukar pesan antar dua atau lebih pihak dalam lingkup bisnis dengan dilandasi aturan Islam. Jadi, seluruh bentuk pesan yang keluar dari pelaku komunikasi harus memperhatikan berbagai etika dan prinsip Islam.

Hal ini mencakup segala bentuk kegiatan bisnis. Baik itu berhubungan dengan produk, layanan perusahaan, hingga komunikasi dengan berbagai pihak untuk memuluskan berbagai kepentingan usaha.

Jika kamu adalah seorang muslim sekaligus praktisi bisnis, tentu saja memahami topik ini sangat penting. Bukankah kamu ingin punya harta melimpah sekaligus berkah?

Prinsip komunikasi bisnis dalam Islam

Berbicara prinsip untuk membangun etika komunikasi bisnis sesuai dengan syariat Islam, maka kita perlu mengembalikan jawabannya kepada sumber hukum Islam. Tak lain dan tak bukan yakni al-Quran dan Sunnah. 

Setidaknya, ada 6 prinsip komunikasi bisnis dalam Islam yang harus setiap muslim jadikan pegangan ketika berbisnis. Kelima prinsip ini bahkan bukan hanya harus diterapkan dalam bisnis, namun juga dalam seluruh aspek kehidupan. 

Kami mengadopsi penjelas dari Risalah Islam dengan kontekstualisasi dengan topik komunikasi bisnis. Berikut poin poinnya:

Komunikasi isinya benar (Qaulan sadida)

Nilai kebenaran harus pebisnis muslim pegang. Prinsip ini mengandung maksud bahwa setiap muslim yang berbisnis harus memastikan bahwa ia hanya menyampaikan hal yang benar. Dalam artian:

  • Jujur dan tidak berdusta
  • Menyampaikan sesuatu yang faktual (sesuai kenyataan)

Hal ini bukan tanpa dasar. Dalam al Quran surat an Nisa, Allah SWT menyampaikan firman-Nya yang artinya:

Dan hendaklah takut kepada Allah orang orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar” (TQS: An Nisa ayat 9)

Jelas sekali bahwa di sana ada perintah untuk mengatakan sesuatu yang benar. Hal itu adalah bukti bahwa seorang pebisnis benar benar orang bertakwa.

Komunikasi memiliki dampak dan efektif (Qaulan Baligha)

Selain benar, pebisnis muslim juga sebaiknya menyusun komunikasinya agar mampu memberikan pengaruh bagi pendengarnya. Dengan demikian, ada dampak yang dapat menjadi hasil komunikasi tersebut.

Dasarnya terdapat juga dalam al Quran. Allah SWT berfirman juga dalam surat an Nisa yang artinya:

“Mereka itu orang orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka, karena itu, berpalinglah kamu dari mereka dan berilah pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka” (TQS: an Nisa ayat 63)

Meskipun ayat di atas berbicara tentang dakwah, tapi sangat relevan juga jika seorang muslim mengaplikasikannya dalam bisnis.

Perkataan berbekas ini dalam berarti:

  • Kata kata dan kalimatnya efektif
  • Tepat sasaran
  • Komunikatif
  • Tidak bertele tele
  • Langsung ke pokok masalah

Komunikasi mengandung kata kata baik (Qaulan Ma’rufa)

Benar dan membekas saja nyatanya belum cukup. Komunikasi bagi pebisnis muslim juga sebaiknya menggunakan pesan pesan berupa kata kata yang ma’ruf (baik).

Benar belum tentu baik. Baik di sini maksudnya antara lain:

  • Tidak menyinggung atau menyakiti orang lain
  • Menggunakan kata kata yang pantas
  • Sopan
  • Menepati janji

Prinsip ini juga sangat jelas dasarnya. Allah SWT berfirman dalam surat an Nisa yang artinya:

“Dan janganlah kamu serahkan kepada orang orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang dalam kekuasaanmu), yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkan lah kepada mereka qoulan ma’rufa (kata kata yang baik)” (TQS an Nisa ayat 5)

Termasuk dalam bisnis, tentu saja seorang muslim harus juga menjalankan ayat ini.

Komunikasi dengan ucapan mulia (Qaulan Karima)

Istilah lain yang muncul dalam Islam terkait komunikasi adalah qaulan karima. Merujuk kepada penggunaan kata kata yang menunjukkan kemuliaan.

Maksud dari kata kata mulia antara lain:

  • Menunjukkan penghormatan kepada lawan komunikasi
  • Tidak merendahkan orang
  • Sopan dan melihat lawan bicara (usia atau kedudukannya)

Prinsip ini juga dijelaskan secara langsung oleh Allah SWT dalam al Quran surat al Isra yang artinya:

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada kedua orangtuamu dengan sebaik baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, sekali kali janganlah kamu mengatakan keadanya perkataan ‘ah’ dan kamu janganlah membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka qaulan karima (ucapan yang mulia) (TQS al Isra ayat 23)

Meskipun ayat tersebut berbicara tentang komunikasi antara anak dan orangtua, namun dalam bisnis juga sebenarnya sangat relevan. Penghormatan kepada mitra bisnis (baik internal maupun eksternal), tentunya akan memberi timbal balik positif.

Komunikasi yang lemah lembut (Qaulan Layyina)

Prinsip lemah lembut juga perlu pebisnis muslim pegang. Terutama, saat komunikasi yang ia lakukan hubungannya dengan orang orang berpangkat atau memiliki kekuasaan.

Khususnya, ketika pebisnis menghadapi orang orang yang ia yakini melakukan kesalahan misalnya korupsi atau pungutan liar. Ia bisa mengoreksinya atau menyampaikan kebenaran, namun sebaiknya memilih kata kata lemah lembut.

Perintah berkomunikasi dengan qaulan layyina ini dasarnya ada dalam Surat Thaha yang artinya:

“Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan qaulan layyina ( perkataan lemah lembut)” (TQS Thaha : 44)

Konteks ayat ini adalah perintah Allah SWT  kepada Nabi Musa dan Nabi Harun a.s. agar mendakwahi Firaun sebagai penguasa saat itu dengan memilih pembicaraan lemah lembut.

Pebisnis bisa mengkontekstualiasinya ketika berkomunikasi dengan para pejabat atau orang berpangkat ketika hendak memuluskan urusan bisnis tertentu.

Komunikasi yang mudah dipahami (Qaulan Maysura)

Terakhir, prinsip yang perlu pebisnis muslim pegang dalam menjalankan komunikasi adalah pentingnya menggunakan kata kata yang mudah orang lain mengerti. 

Jangan membuat orang bingung dan merasa kesulitan menangkap makna makna yang sampai kepada mereka. Entah itu dalam promosi, negosiasi, melayani pelanggan, dan sebagainya.

Poin ini juga ada dasarnya dalam al Quran surat al Isra, Allah SWT berfirman yang artinya:

“Dan jika kamu berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Tuhannya yang kamu harapkan, maka katakan lah kepada mereka qaulan maysura (ucapan yang mudah)” (TQS: al Isra ayat 28)

Keenam prinsip di atas, semuanya relevan dalam konteks bisnis. Jadi, sangat mungkin untuk dikontekstualisasikan.

Contoh penerapan komunikasi bisnis Islam

Untuk menambah pemahamanmu mengenai komunikasi bisnis Islam, kamu mungkin akan terbantu dengan mendapatkan contoh langsung penerapan komunikasi bisnis Islam. 

Contoh komunikasi bisnis Islam dalam kegiatan promosi atau periklanan

Kegiatan promosi atau menjajakan produk dan layanan adalah gerbang yang membuat konsumen berdatangan. Jika seorang pebisnis melakukan promosi hanya dengan dasar orientasi keuntungan, pasti ia akan menggunakan cara cara yang bebas.

Berbeda dengan pebisnis muslim yang paham dengan prinsip komunikasi syari ketika berbisnis. Ia akan melandasi kegiatannya dengan kebenaran. Contoh komunikasi dalam kegiatan promosi sesuai prinsip Islam antara lain:

  • Produk yang perusahaan tawarkan adalah produk yang halal. 
  • Menyampaikan produk atau layanan sesuatu faktanya. Tidak melebih lebihkan yang tidak ada atau berdusta. Kontennya dibuat sesuai dengan kenyataan meski menggunakan teknik copywriting.
  • Konten promosinya jelas. Mengandung prinsip 5 W dan 1 H yang membuat audiens paham dengan produk atau layanan yang perusahaan tawarkan.
  • Ketika menyusun konten promosi, ia memperhatikan target audiensnya. Dengan demikian, kontennya sesuai dengan tingkat pemahaman audiens. Bahasanya pas dan mudah memberikan pemahaman.
  • Konten promosinya membekas, membuat orang ingat dengan produk dan layanannya. Tentu saja ingatan yang kami maksud adalah ingatan yang baik baik.
  • Tidak merendahkan audiens, bahkan memilih bahasa bahasa yang sopan dan cenderung memuliakan (memberikan penghormatan kepada mereka).
  • Tidak menggunakan kata kata kasar, apalagi sampai dengan terang terangan merendahkan kompetitor.
  • Ketika melampirkan testimoni, testimoninya benar benar datang dari orang yang memang sudah mencoba produk dan layanannya. Tidak dibuat sendiri dengan rekayasa (pembohongan publik).

Contoh komunikasi bisnis Islam dengan calon pembeli atau pengguna

Setelah promosi, kegiatan komunikasi bisnis yang lazim perusahaan lakukan adalah melakukan tawar menawar secara pribadi. Biasanya wakil perusahaan yang mengurus kegiatan ini adalah CS atau customer service.

Ada beberapa contoh penerapan komunikasi bisnis Islam yang dapat CS terapkan dalam kegiatan ini:

  • Membuka percakapan dengan salam dan mengajak untuk saling memperkenalkan diri antara CS sebagai ‘pebisnis’ dengan calon pembeli.
  • CS tidak memaksa dan menekan calon pembeli untuk membeli produk atau layanannya.
  • Dalam tahap negosiasi, CS juga harus  jujur dan menyampaikan detail produk dengan sebenar benarnya.
  • CS menyesuaikan pilihan kata sesuai dengan latar belakang lawan bicaranya.
  • Tidak ada kata kata jorok atau kasar yang keluar.
  • Komunikasi saat sebelum closing dan sesudah closing mestinya sama baiknya. Jangan sampai ketika pembeli sudah transfer atau bayar cara komunikasinya jadi berbeda.

Contoh komunikasi bisnis Islam internal (atasan dan bawahan)

Selain dengan pihak eksternal perusahaan, komunikasi bisnis yang menggunakan prinsip Islam juga perlu tegak di level internal. Salah satunya dalam praktik komunikasi antara atasan dan bawahan atau sebaliknya.

Seringkali kami menemukan bahwa ada ketidak akuran antara kedua pihak ini. Padahal sebagai sebuah kesatuan tim, mestinya kompak dan berjalan beriringan. Berikut ini contoh komunikasi antara kedua belah pihak yang menggunakan prinsip prinsip Islam.

  • Ketika atasan memberikan instruksi, hendaknya menggunakan bahasa yang jelas dan detail sehingga mudah bawahannya pahami.
  • Atasan tidak menganggap bawahannya sebagai ‘babu’, melainkan manusia yang memiliki hak untuk diberikan penghormatan sebagai makhluk Allah SWT,
  • Ketika menegur, atasan hendaknya melakukannya secara pribadi (tidak mempermalukan bawahan dengan menegurnya di depan umum).
  • Sampaikan teguran dengan bahasa yang berpengaruh dan memberikan dampak perubahan, bukan sekedar melampiaskan emosi karena kerja bawahan tidak becus.
  • Pahami latar belakang bawahan yang menjadi lawan komunikasi agar setiap instruksi bisa sampai dengan baik dan efektif.
  • Atasan memang harus menegakkan disiplin dan perjanjian kerja, namun hendaknya menghindari kata kata kasar dalam prosesnya.
  • Bawahan hendaknya menghormati atasannya dan bertindak sopan.
  • Ketika ada hal yang tak dimengerti, bawahan jangan malu bertanya dan malah membiarkan diri berjalan dalam kesalahan.
  • Mungkin ada hal yang tak srek dari perlakuan atasan, namun tak sebaiknya melakukan ghibah atau persekongkolan untuk melakukan keburukan kepada atasan.
  • Bersikaplah terbuka dengan masalah masalah yang ada dalam perusahaan kepada atasan.

Contoh komunikasi bisnis internal (sesama pegawai)

Selain antara atasan dan bawahan, gesekan juga sangat sering terjadi antara sesama pegawai. Bukan bekerja sebagai tim yang hebat, sesama pegawai malah bikin rusuh dan membuat kultur perusahaan jadi tidak baik.

Padahal, Islam juga punya seperangkat prinsip komunikasi yang bisa setiap pegawai terapkan ketika bekerja dalam satu naungan bisnis perusahaan. Jika prinsip ini tegak, perusahaan bisa menjadi semakin baik. Berikut beberapa implementasi komunikasi bisnis di antara sesama pegawai atau karyawan:

  • Saling mengenal satu sama lain, antar pegawainya baiknya tau dan saling paham latar belakangnya sebagai dasar ketika melakukan komunikasi.
  • Bertegur sapa dan melemparkan senyum antar pegawai (kecuali jika senyumnya bikin fitnah/ misalnya dengan yang bukan mahrom maka sewajarnya saja)
  • Saling membantu ketika ada persoalan dalam pekerjaan.
  • Gunakan kata kata santun ketika hendak menegur rekan karyawan yang melakukan kesalahan. 
  • Terbuka jika ada ketidaksukaan, jangan membiarkan masing masing memendam unek unek berujung dendam.
  • Mungkin saja melakukan persaingan, tapi niatkan fastabiqul khoirot (berlomba lomba dalam kebaikan) sehingga tidak saling menebar fitnah dan menjatuhkan.
  • Menghindarkan diri dari ghibah dan menjatuhkan kehormatan sesama rekan karyawan di hadapan rekan yang lain.
  • Lakukan komunikasi dengan memperhatikan dan menyesuaikan latar belakang rekan karyawan

Contoh komunikasi bisnis dengan mitra pendukung perusahaan

Satu lagi pihak yang mungkin menjadi objek komunikasi bisnis adalah rekanan yang mendukung kelangsungan bisnis. Misalnya pemerintah setempat, lembaga lembaga sertifikasi, supplier, dan sejenisnya. 

Berkomunikasi dengan pihak pihak ini juga tentunya sebaiknya tetap menggunakan prinsip komunikasi bisnis Islam. Berikut beberapa contoh bentuk komunikasinya:

  • Memahami budaya lembaga, instansi, atau organisasi mitra.
  • Menyesuaikan komunikasi agar sesuai dengan latar belakang dan budaya rekanan.
  • Bersikap jujur dan terus terang ketika menyampaikan maksud atau kepentingan perusahaan (kecuali hal yang memang rahasia perusahaan).
  • Menghormati kedudukan rekanan ketika berkomunikasi.
  • Lakukan nasihat dengan halus (tidak kasar dan vulgar) ketika mengetahui rekanan melakukan tindakan salah seperti menarik atau minta uang suap.
  • Komunikasi terbuka dan tidak menyimpan hidden agenda yang bertujuan menjatuhkan rekanan.

Penutup

Islam adalah agama yang syamilan (menyeluruh) dan kamilan (sempurna). Sebagai seorang muslim, sudah sepatutnya kita menyadari hal ini. Dengan demikian, kita berusaha untuk menerapkan setiap aturan Islam dalam kehidupan. 

Contoh komunikasi bisnis Islam ini hanyalah secuil bukti yang bisa membuat kita semakin yakin akan hebatnya Islam. Semoga informasi yang Tugas Karyawan sajikan ini bukan hanya menambah wawasan, tapi sekaligus meningkatkan iman, takwa, dan akhlak mulia kita semua.

4.7/5 - (10 votes)
Share:

Tinggalkan komentar