Manajemen : Pengertian Ahli, Ruang Lingkup, Tujuan, Fungsi, dan Jenis

Pengertian manajemen jadi hal wajib bagi kamu yang sedang mendalami ilmu ekonomi dan bisnis. Hal ini karena kegiatan manajemen tak bisa dipisahkan sama sekali dengan kedua ilmu tersebut.

Pertanyaannya, sudah tahukah kamu apa itu manajemen? Bagaimana ruang lingkup, fungsi, tujuan, dan jenis jenisnya?

Jika kamu tau tau, silahkan simak pembahasan dari Tugas Karyawan berikut ini ya! Kami bakal membahasnya hingga tuntas. Simak baik baik!

Pengertian Manajemen

Ketika hendak memahami sesuatu, penting untuk selalu memulainya dari pengertian atau definisi. Pemahaman soal hal ini akan jadi pondasi dalam memahami berbagai hal turunan dalam suatu topik. Termasuk saat kita mau mendalami perihal manajemen.

Banyak ahli yang mencoba memberikan definisi soal topik ini. Kita akan kutitipkan beberapa pengertian manajemen menurut para ahli dari berbagai penjuru dunia.

Henri Fayol, menyebut bahwa manajemen adalah kegiatan meramalkan,merencanakan, mengatur, memerintahkan, mengkoordinasikan, serta mengendalikan aktivitas orang lain.

Sementara itu, FW Taylor memberikan pengertian yang lebih simple. Menurutnya, manajemen merupakan seni untuk mengetahui apa yang harus dilakukan dan melihat bahwa hal itu dilakukan dengan cara yang paling baik.

Dalam uraian yang lebih lengkap, Terry dan Franklin memberikan definisi bahwa manajemen adalah proses berbeda yang terdiri dari kegiatan perencanaan, pengorganisasian, penggerak, serta pengendalian. Fungsinya untuk menentukan dan mencapai tujuan yang dinyatakan dengan penggunaan manusia dan sumber daya lainnya.

Jika kami mencoba meramunya berbagai definisi manajemen menurut ahli, maka manajemen adalah kegiatan yang dilakukan untuk menentukan serta mencapai tujuan. Dengan cara melakukan pengelolaan terhadap tim atau organisasi yang dipimpin.

Dengan demikian, dalam bangunan organisasi, kerja manajemen ini adalah domain orang orang yang punya peran pengelolaan. Baik itu pengelolaan sumber daya manusia maupun barang.

Sampai sini, apakah kamu sudah mengerti? Idealnya sih belum. Jadi, kamu perlu melanjutkan lagi artikel ini.

Ruang Lingkup Manajemen

Memahami ruang lingkup manajemen juga hal yang tak kalah penting. Dengan memahaminya, kamu bisa tahu apa saja garis garis besar yang seorang manajer lakukan.

Baik dalam sebuah organisasi, perusahaan, dan lainnya. 

Meskipun ruang lingkup ini dalam tataran yang lebih praktis bisa jadi berbeda, namun secara umum di berbagai bidang sama saja. Ruang lingkup manajemen menurut ahli mencakup beberapa hal berikut:

Planning (Merencanakan)

Kegiatan merencanakan adalah pekerjaan manajemen di awal.  Isinya berupa merencanakan tujuan dan proses yang harapannya akan terwujud.

Seorang manajer perlu membayangkan, menggambarkan, hingga mendefinisikan hal hal apa saja yang perlu ia dan timnya lakukan agar semuanya bisa tercapai.

Controlling (Pengawasan)

Ketika perencanaan mulai tim laksanakan, maka manajemen bukan berarti sudah boleh ongkang ongkang kaki.

Lingkup pekerjaannya juga termasuk mengawasi proses yang berjalan. Proses ini tentu saja memerlukan berbagai tools seperti KPI, daftar hadir, catatan harian, dan banyak lagi.

Pengawasan ini berlangsung sampai suatu proyek atau tujuan tim benar benar telah terwujud. Maka mungkin dapat kami katakan, biasanya lingkup ini memakan waktu paling lama.

Closing (Penutup)

Lingkup paling akhir adalah closing. Dalam proses ini manajemen melakukan berbagai bentuk evaluasi dari apa yang ia dan timnya kerjakan.

Manajemen berarti mengaudit berbagai hal seputar proyeknya, menyampaikan hasilnya, hingga melakukan penilaian terhadap tim yang mereka pimpin.

Wawasan yang ia dapatkan dalam proses pengawasan sangat membantu proses closing. Bahkan berbagai penilaian itu dapat manajemen jadikan dasar dalam membuat rencana tim ke depannya.

Tiga lingkup  utama manajemen di atas berdasarkan penjelasan Project Management Institute. Lembaga ahli dalam bidang manajemen.

Tujuan Manajemen

Management study guide menjelaskan, bahwa ada setidaknya empat tujuan dari manajemen.

Ketika proses manajemen berjalan dengan baik, maka keempat tujuan manajemen menurut ahli ini akan terwujud. Sebaliknya, jika prosesnya buruk, maka pasti tujuannya juga tak mungkin tercapai.

Berikut ini tujuan utama dari kegiatan manajemen yang perlu kamu tahu:

Mendapatkan hasil optimal dengan upaya yang minimal

Dengan berjalannya proses manajemen, berbagai hal yang tim keluarkan bisa lebih efisien. Tapi di saat yang sama, hasil yang tim dapatkan tetap optimal.

Baik itu hubungannya dengan pemikiran dan pemanfaatan sumber daya manusia, keuangan, material, dan sebagainya.

Bahkan dalam konteks perusahaan, ini juga akan membuat biaya yang perusahaan keluarkan jadi lebih minim. Tentu sangat bagus untuk peningkatan keuntungan perusahaan bukan?

Meningkatkan efisiensi pada faktor faktor produksi

Alat alat perusahaan, terutama dalam pabrik, itu pasti ada masa pakainya. Meski harganya mahal, namun dalam kadar tertentu bisa berkurang fungsinya atau bahkan rusak.

Hal ini akan sangat merugikan perusahaan bukan? Tentu saja.

Nah, dengan proses manajemen yang baik, dampak dampak semacam ini akan dapat terminimalisir. Operasional alat alat produksi ini dapat lebih awet, tidak boros, dan tentu saja menjadikan perusahaan tak perlu sering sering melakukan perbaikan atau pergantian mesin.

Kesejahteraan tim bisa lebih maksimal

Ketika dua tujuan di awal itu teraih, maka pastinya perusahaan akan sehat. Keuntungan yang perusahaan dapat bisa maksimal.

Baca Juga:  Customer Experience: Pengertian, Komponen, Tugas, Contoh & Aplikasi

Nah, hal ini pastinya akan mendorong terwujudnya manfaat maksimal juga bagi anggota tim, yang dalam hal ini karyawan karyawannya. 

Upah bisa lancar sesuai kesepakatan jumlahnya, pemberiannya tepat waktu, bonus sesuai janji, dan karyawan bisa bekerja dalam jangka panjang.

Perbaikan manusia serta keadilan sosial

Dalam skala yang lebih luas, perusahaan yang menerapkan manajemen dengan baik juga akan berdampak bagi masyarakat secara luas.

Perusahaan atau lembaga yang produktif pasti terus membuka lapangan kerja, memberikan pengaruh pada perputaran uang di masyarakat sekitar, dan lainnya.

Jadi, untungnya bukan hanya bagi pelaku manajemen saja. Namun juga melebar ke mana mana. Sebaliknya, jika perusahaan buruk manajemennya, ia akan bangkrut, tutup, dan menghambat kemajuan masyarakat.

Fungsi Manajemen

Ada 5 fungsi manajemen menurut ahli. Penjelasan ini berdasarkan uraian Koontz dan O’Donnel.

Kami akan coba untuk memberikannya untuk kamu:

Fungsi Perencanaan

Aplikasi manajemen dalam perusahaan dapat membantu organisasi untuk menentukan tindakan di masa depan.

Dengan demikian, bisa diputuskan berbagai kegiatan kegiatan paling baik dalam mencapai tujuan.

Manajemen akan membantu organisasi menjawab hal hal berikut:

  • Apa yang harus dilakukan?
  • Kapan semuanya itu akan berjalan?
  • Bagaimana cara untuk melakukannya?

Menjawab pertanyaan pertanyaan di atas tentu saja akan sangat membantu arah organisasi untuk mencapai kesuksesan.

Setidaknya, akan mampu menyelesaikan hal hal berikut:

  • Ketidakpastian kerja
  • Kebingungan di antara anggota tim tentang pekerjaannya
  • Resiko
  • Pemborosan

Fungsi Pengorganisasian

Fungsi kedua adalah membantu proses organizing (pengorganisasian). Apa yang dimaksud dengan pengorganisasian?

Maksudnya adalah penyatuan berbagai sumber daya yang dimiliki agar mampu menghasilkan sesuatu yang produktif. Meliputi:

  • Sumber daya manusia
  • Sumber daya fisik
  • Keuangan

Produktivitas yang saling berkaitan antara ketiga hal di atas, dapat terwujud manakala perusahaan atau organisasi melakukan proses manajemen dengan baik dalam aspek pengorganisasian.

Rincian proses yang kami maksud antara lain:

  • Identifikasi kegiatan
  • Klasifikasi atau pengelompokan kegiatan
  • Pembagian dan penugasan kepada tim dengan baik
  • Pendelegasian wewenang serta penciptaan tanggung jawab
  • Koordinasi antar anggota tim dengan baik

Fungsi Kepegawaian

Ketika organisasi sudah berjalan, manajemen juga punya fungsi untuk mempertahankan agar apa yang sudah berjalan itu istiqamah atau awet. Proses kerja itu bisa bertahan bahkan terus berkembang untuk memajukan organisasi.

Agar fungsi kepegawaian ini berjalan, jajaran manajer dalam perusahaan perlu melakukan berbagai proses sebagai berikut:

  • Merencanakan tenaga kerja dengan baik, meliputi perkiraan kebutuhan serat pemilihan orang dan pemosisiannya dengan tepat dalam organisasi perusahaan.
  • Melakukan pelatihan serta pengembangan bagi pegawai
  • Melakukan penilaian kinerja
  • Membangun sistem promosi dan mutasi pegawai secara sehat

Fungsi pengarahan

Penerapan manajemen juga punya fungsi untuk menggerakan organisasi, sehingga seluruh tim bisa bergerak untuk mencapai tujuan.

Bagaimanapun anggota tim dalam organisasi atau perusahaan merupakan manusia, yang memiliki akal dan emosi. Manusia bukan robot atau mesin yang bisa otomatis bergerak dengan tombol on off. 

Jadi, bagian manajemen perlu melakukan berbagai hal berikut:

  • Pengawasan atau supervisi, setiap pekerjaan pegawai perlu untuk diberikan pengawasan. Polanya atasan memantau bawahan.
  • Motivasi, maksudnya mendorong bawahan untuk terdorong bergerak, selalu semangat, dan mau berusaha bekerja mencapa tujuan.
  • Kepemimpinan, seorang atasan perlu membangun keterampilan agar mampu mempengaruhi bawahannya.
  • Komunikasi, yakni proses penyampaian info, pendapat, pengalaman antar organ dalam tim.

Fungsi Pengontrolan

Satu lagi, manajemen juga berfungsi untuk mengontrol seluruh pekerjaan tim. Dengan mengukur kinerja seluruh anggota organisasi berkaitan dengan kesesuaiannya dengan standar yang organisasi inginkan.

Tujuan akhirnya, semua bisa berjalan tepat dengan standar.

Dengan pengontrolan ini, setiap penyimpangan juga akan dapat tercegah dan bisa segera mendapatkan tindakan. Hal ini menghindari dampak dampak yang mungkin bisa merusak organisasi.

Fungsi pengontrolan dalam manajemen ini dapat berjalan jika organisasi atau perusahaan menjalankan hal hal sebagai berikut:

  • Menetapkan standar kinerja
  • Mengukur kinerja aktual
  • Melakukan perbandingan antara kinerja aktual dengan standar kinerja untuk mengetahui penyimpangan jika ada.
  • Melakukan tindakan perbaikan atas penyimpangan yang terjadi.

Jenis jenis manajemen berdasarkan gayanya

Dalam aplikasinya, orang orang yang menjabat pada posisi manajerial mungkin menerapkan berbagai gaya. Setiap jenis ini punya kelebihan dan kekurangannya masing masing.

Secara umum, ada 3 jenis gaya utama. Yakni:

  • otokratis
  • demokratis
  • laissez faire

Di dalam masing masing jenis tersebut, ada berbagai turunan jenis lagi.

Jika kamu berkesempatan menjadi seorang manajer, kamu bisa menerapkan salah satu di antara jenis jenis manajemen yang ada di bawah ini:

Jenis manajemen otokratis

Gaya manajemen ini adalah gaya dengan pendekatan top down atau atas bawah. Pola komunikasi organisasinya bersifat satu arah dari atasan kepada karyawan.

Semua keputusan ada di tangan atasan. Orang orang yang jadi karyawan tidak mendapatkan dorongan untuk mengeluarkan isi kepalanya. Baik itu dalam bentuk pertanyaan, penyampaian ide, maupun berbagai pemikiran lain.

Gaya ini juga punya subjenis lagi yang jumlahnya ada 3. Kita akan coba uraikan satu per satu.

Gaya manajemen otoritatif

Untuk jenis ini, ciri cirinya adalah sebagai berikut:

  • Manajer mendikte apa yang mereka inginkan kepada bawahannya.
  • Jika bawahan tidak patuh, manajer akan langsung memberikan hukuman.
  • Karyawan mesti ikut perintah tanpa mempertanyakan otoritas yang atasan miliki. Karyawan cukup jalankan saja perintah.
  • Manajer memiliki pemantauan hingga level terkecil dengan anggapan bahwa jika dibiarkan, karyawan pasti tidak akan becus menjalankan tujuan organisasi.

Kelebihan dari gaya ini:

  • Pengambilan keputusannya jadi lebih cepat
  • Lebih mudah menciptakan peran dan ekspektasi atasan dengan jelas.
  • Meskipun pekerja keterampilannya rendah, mereka tetap bisa beroperasi.
  • Produktivitas bawahan tinggi (Jika manajer full control)

Kekurangan manajemen jenis ini:

  • Tim atau karyawan rentan tidak puas
  • Potensi pergantian tim atau karyawan tinggi
  • Berpotensi membangun gap antara bawahan dengan manajer
  • Inovasi cenderung akan lambat
Baca Juga:  FMCG Adalah Tempat Kerja Menarik, Ini Penjelasan Lengkapnya!

Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, gaya jenis ini hanya cocok saat situasi yang membutuhkan keputusan cepat. Idealnya ketika ada krisis dalam organisasi, gaya manajemen ini akan sukses menghasilkan tujuannya.

Gaya manajemen persuasif

Mengenai ciri dari jenis manajemen ini, maka cirinya sebagai berikut:

  • Pengambilan keputusan bersifat satu arah top down
  • Manajer tidak hanya memberi instruksi, tapi menggunakan keterampilan persuasif untuk meyakinkan bahwa keputusan sepihak itu demi kebaikan bersama
  • Manajemen menyampaikan proses dan alasan dibalik kebijakan kebijakannya yang sepihak.
  • Karyawan akan lebih merasa seolah mendapatkan perhatian

Kelebihan gaya ini:

  • Dapat membangun kepercayaan lebih tinggi antara manajemen dan karyawan.
  • Karyawan atau tim bisa lebih mudah dalam menerima keputusan.
  • Respon positif akan lebih mudah didapatkan dari tim dengan alasan logika ketimbangan hukuman
  • Karyawan atau tim tidak terlalu merasa diawasi sebagaimana dalam gaya otoritatif.

Namun, ada juga beberapa kekurangan dari gaya ini:

  • Potensi marah dan gap masih ada karena tidak ada ruang menyampaikan pendapat.
  • Inovasi sulit muncul.
  • Karyawan tetap punya peluang marah, karena sejatinya batasan ketat itu tetap ada dengan gaya ini.

Gaya ini bisa saja seorang manajer gunakan dan memberi hasil optimal jika posisinya manajer punya pengalaman lebih banyak ketimbang tim yang ada dalam pengelolaannya.

Gaya manajemen paternalistik

Ciri ciri yang melekat pada gaya ini antara lain:

  • Mengutamakan kepentingan bawahan
  • Menyebut timnya sebagai keluarga dan mendorong mereka untuk memberikan kesetiaan dan kepercayaan kepada manajemen.
  • Keputusan tetap sepihak, namun manajer menjelaskan bahwa keputusan itu hasil konsultasi atau ada legitimasi dari ahli (bukan mereka sendiri)
  • Proses memutuskan kebijakan dijelaskan, hanya tetap tak ada ruang timbal balik untuk tim.

Beberapa kelebihan dari gaya ini antara lain:

  • Manajer akan berfokus pada kepentingan dan kesejahteraan tim atau karyawan.
  • Setiap keputusan berdasarkan hal terbaik untuk tim.
  • Menghargai keterampilan dan peningkatan tim, sehingga mendorong kebahagiaan mereka.
  • Dengan penghargaan, tim atau karyawan juga bisa berpotensi lebih produktif.

Kekurangan dari paternalistik antara lain:

  • Inovasi kurang, karena keputusan masih sepihak.
  • Potensi kebencian tim terhadap manajemen masih mungkin ada, dari anggota tim yang kurang percaya dan menganggap pendekatan manajer terlalu lebay.

Gaya semacam ini mungkin akan cocok organisasi gunakan ketika budaya setempat memang memiliki sifat kekeluargaan tinggi (meski bukan keluarga kandung). Dalam masyarakat individualis mungkin malah kurang cocok.

Jenis manajemen demokratis

Berbeda dengan gaya otokratis, manajemen dengan jenis demokratis tidak memutuskan setiap kebijakan dengan sepihak.

Sebaliknya, justru mendorong tim atau karyawan untuk terlibat dalam proses pengambilan keputusan. Pola komunikasi yang terbangun sifatnya dua arah. dari atasan ke bawahan dan bawahan ke atasan.

Secara umum, gaya ini akan meningkatkan kekompakan di antara anggota tim kerja.

Dalam tataran lebih teknis, ada beberapa turunan jenis lagi dari gaya ini. Kami akan bahas satu per satu.

Gaya manajemen konsultatif

Untuk jenis ini, ada beberapa ciri yang melekat. Antara lain:

  • Manajer meminta pandangan, pendapat, atau pemikiran anggota tim yang ia kelola sebelum membuat keputusan tertentu.
  • Keputusan akhir di tangan manajer, tapi semua masukan akan mendapatkan ruang pertimbangan.
  • Biasanya jenis manajemen ini menempatkan staf ahli dalam bagian organisasi.

Kelebihan dari gaya ini:

  • Bisa membangun ikatan kuat antara manajemen dan tim.
  • Tim bisa tumbuh bersama sama dengan manajer, karena semuanya terdorong sama sama belajar dan berbagi pemikiran.
  • Inovasi sangat mungkin tumbuh dengan cepat.
  • Potensi hadinya pemecahan masalah yang baik dari waktu ke waktu.

Adapun kekurangannya antara lain:

  • Berkonsultasi itu lumayan memakan waktu dan tenaga.
  • Ketika manajer tak mampu mengelola  dengan baik, mungkin ada potensi tim menganggap manajer pilih kasih dengan anggota tim tertentu (yang pendapatnya selalu didengar dan diikuti)
  • Mungkin saja muncul ketidakpercayaan tim kepada manajer karena melihat manajernya kok nanya nanya mulu? Terkesannya kurang pintar.

Gaya konsultatif ini sangat cocok untuk pihak manajemen gunakan manakala tim yang ia kelola terdiri dari para ahli dengan spesialisasi keterampilan masing masing. Pada saat yang sama, pengalaman manajer terbatas.

Gaya manajemen partisipatif

Untuk ciri dari manajemen partisipatif antara lain:

  • Dalam gaya jenis ini, manajer dan tim atau staf posisinya sama sebagai pihak yang berperan dalam pengambilan keputusan.
  • Staf atau tim karyawan memiliki akses informasi lebih banyak mengenai perusahaan dan didorong untuk berinovasi solusi.
  • Manajer bekerjasama dengan stafnya untuk membuat keputusan sebelum tahap tindak lanjut.

Ada beberapa kelebihan dari gaya ini:

  • Karyawan merasa mendapat penghargaan dari manajemen dan perusahaan.
  • Penghargaan semacam ini bisa mendorong produktifitas karyawanatau tim jadi meningkat.
  • Inovasi akan lebih banyak karena tingginya keterlibatan.

Namun, gaya ini juga tak luput dari kekurangan. Kekurangannya antara lain:

  • Proses pengambilan keputusan keputusan jadi lebih lambat.
  • Rentan konflik antar tim.
  • Ada bahaya juga jika tim atau karyawan tau terlalu banyak info internal perusahaan, apalagi info info sensitif.

Gaya semacam ini sangat cocok apabila diterapkan di dalam organisasi atau perusahaan yang membutuhkan banyak inovasi, misalnya dalam perusahaan IT. Perusahaan bisa mendapatkan banyak manfaat dari gaya jenis ini.

Gaya manajemen kolaboratif

Ciri yang melekat dalam gaya kolaboratif ini antara lain:

  • Manajemen akan menciptakan forum terbuka untuk berbagai ide bahasan sebelum pengambilan keputusan.
  • Ada pemberdayaan tim sehingga mereka merasa terlibat.
  • Pengambilan keputusan berdasarkan suara mayoritas.
Baca Juga:  CRM : Pengertian, Prinsip, Tujuan, Manfaat & Strategi Penerapan

Kelebihan dari gaya ini di antaranya:

  • Tim merasa didengar dan dihargai oleh manajemennya.
  • Komunikasi dalam organisasi jadi lebih terbuka, sehingga konflik bisa lebih mudah tercegah.
  • Tim atau karyawan terdorong untuk bekerja optimal.

Sementara itu kekurangannya antara lain:

  • Proses pengambilan keputusan jadi lebih lama.
  • Faktanya, kesepakatan mayoritas belum tentu keputusan paling benar bagi organisasi.
  • Ketika manajemen memerlukan intervensi terhadap keputusan mayoritas yang salah, ada resiko mereka malah dibenci.

Sama sebagaimana gaya manajemen demokratis lainnya, manajemen jenis ini juga cocok untuk perusahaan yang ingin banyak inovasi.

Gaya manajemen transformasional

Karakter yang melekat pada jenis gaya manajemen ini adalah:

  • Fokus manajerialnya adalah membangun pertumbuhan tim.
  • Manajer terus menerus mendorong timnya untuk mencapai berbagai prestasi untuk menembus zona nyamannya secara teratur.
  • Dari waktu ke waktu, manajer terus berusaha meningkatkan standar pencapaian timnya.

Jika organisasi menerapkan gaya ini, beberapa kelebihan berikut bisa jadi akan teraih:

  • Inovasi jadi meningkat
  • Karyawan lebih mudah beradaptasi dengan perubahan.
  • Mendorong munculnya kegiatan berpikir kreatif, pengembangan produk, serta peningkatan fleksibilitas tim.

Sementara untuk kekurangan gaya transformasional ini antara lain:

  • Tim bisa mudah lelah dan stres jika dalam proses bertumbuh mereka merasa terpaksa, akhirnya mereka mungkin menyerah.

Gaya manajemen ini sangat cocok untuk perusahaan di bidang industri yang bergerak cepat dan memiliki tuntutan adaptasi tinggi. Misalnya industri Fast Moving Consumer Goods (FMCG).

Gaya manajemen pembinaan

Beberapa ciri yang melekat dalam gaya ini adalah:

  • Manajer memposisikan diri sebagai seorang pembina, sekaligus memandang karyawannya sebagai anggota tim yang berharga.
  • Manajer memiliki tugas mengembangkan serta membimbing timnya.
  • Manajemen juga memberikan pembelajaran, peningkatan keterampilan, sekaligus pertumbuhan di tempat kerja.

Di antara sekian banyak kelebihan gaya ini adalah:

  • Tim akan merasa lebih dihargai 
  • Ikatan antara manajer dan karyawan akan lebih kuat.
  • Tim secara alami akan terdorong untuk memberikan hasil terbaik sesuai arahan manajernya.

Meskipun banyak baiknya, namun gaya ini juga nyatanya punya kekurangan, yakni:

  • Gaya ini sejatinya mementingkan kemajuan jangka panjang. Jika ini yang terlalu jadi fokus, bisa berpotensi membuat organisasi kurang perhatian untuk target jangka pendek.

Gaya semacam ini sangat cocok jika perusahaan yang menerapkannya memerlukan sumber daya dengan kualitas mumpuni. Organisasi jadi lebih efektif dan efisien dalam pengelolaan tim.

Jenis manajemen laissez faire

Secara umum, gaya ini berupa proses manajemen yang cenderung berlepas tangan dalam proses pengawasan.

Jadi, tim, staf, atau karyawan yang mereka pimpin punya lebih banyak kontrol dan kewenangan atas berbagai pekerjaannya.

Tugas manajer hanya memberikan penugasan serta pendelegasian saja. Mereka hanya ikut campur dengan urusannya timnya manakala timnya memang meminta bantuan mereka.

Ada dua gaya turunan dalam manajemen jenis ini.

Gaya manajemen delegatif

Ciri dari gaya delegatif ini antara lain:

  • Manajer hanya bekerja untuk menetapkan dan memberikan tugas.
  • Tim yang mendapat tugas boleh bekerja dan memberdayakan diri sesuai keinginannya.
  • Ketika tugas selesai, manajer meninjau hasilnya untuk memberikan saran terhadap pekerjaan di masa mendatang.

Gaya ini sebenarnya ada bagusnya juga. Beberapa kelebihannya antara lain:

  • Menumbuhkan inovasi dan kreativitas di dalam tim.
  • Dengan kewenangan dan otonomi yang tinggi, tim juga mungkin akan merasa lebih puas.
  • Kerja tim akan solid, karena antar anggota akan lebih banyak berkomunikasi untuk menyelesaikan masalah.

Namun, ada beberapa kekurangannya juga dari gaya ini:

  • Jika tim bukan pekerja terampil, maka mungkin mereka malah bisa kurang fokus dan bingung arah pekerjaan.
  • Kurangnya sentuh pimpinan juga bisa menimbulkan kerentanan konflik antar tim.
  • Tim bisa jadi menganggap manajemen tak becus karena tak kelihatan punya kerjaan.

Gaya semacam ini cocok cocok saja, andaikata anggota tim diisi oleh orang orang terampil. Dalam artian, mereka sudah punya cukup pengalaman dalam menangani berbagai pekerjaan yang menjadi tugasnya.

Gaya manajemen visioner

Meski mirip mirip dengan delegasi, gaya visioner memiliki beberapa ciri tersendiri:

  • Tugas manajer dalam memimpin lebih kepada menginspirasi timnya.
  • Manajer berusaha menjelaskan tujuan dan alasan setiap keputusan, serta berusaha meyakinkan tim agar mau mencapai tujuan.
  • Anggota tim mendapat kebebasan luas untuk menyelesaikan tugas, keterlibatan manajer hanya sedikit.
  • Tetap terdapat proses pengawasan atau pemeriksaan dalam skala waktu tertentu untuk memastikan tim bekerja sesuai jalur.

Kelebihan dari gaya ini antara lain:

  • Mendorong keterlibatan tinggi pada setiap anggota tim.
  • Memicu kepuasaan kerja lebih tinggi.
  • Mendorong peningkatan inovasi dan kemampuan pemecahan masalah.

Sementara itu, untuk kekurangannya adalah:

  • Tidak banyak manajer yang benar benar punya kemampuan menginspirasi. Agar berjalan, gaya ini perlu sosok manajer yang memang benar benar inspiratif (bukan sok sok inspiratif)

Gaya ini juga cocok bagi industri yang membutuhkan inovasi tinggi dalam prosesnya. Selain itu, bagus juga untuk perusahaan start up kecil yang punya misi ‘mengganggu’ dominasi dari pemain pemain lama atau besar di bidang industri yang mereka geluti.

Penutup

Materi di atas semoga bisa membuat wawasan pembaca Tugas Karyawan jadi bertambah. 

Ternyata, dalam ilmu manajemen, bukan hanya pengertian manajemen saja yang menarik untuk didalami. Aspek aspek lain juga tak kalah menarik. Terus update pengetahuan tentang berbagai hal yang berhubungan dengan dunia kerja di Tugas Karyawan.

Baca juga:

Share:

Tinggalkan komentar